| Jumat, 10 Desember 2004 | MURIA |
60.500 Karung Plastik dan 15 Perahu Disiapkan
KUDUS- Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) telah menetapkan 11 titik pantau di sepanjang alur Sungai Wulan dan Sungai Juana. Sungai tersebut merupakan pecahan Sungai Serang, dimulai dari Bendung Wilalung, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus. Luapan sungai itu mengancam wilayah Kudus selatan, Pati selatan, Jepara selatan, dan Demak timur laut. Untuk mengantisipasinya, Balai Pengelolaan Sumber Daya Air wilayah Sungai Serang, Lusi, dan Juana (BPSDA Seluna) telah menyiapkan 42 ribu karung plastik dan 3.500 kg kawat bronjong untuk menambal tanggul secara darurat. Sementara itu, Pemkab Kudus menyiapkan 5.000 karung plastik, Jepara 3.500 karung, serta Pati 10.000 karung dan 5.000 kg kawat bronjong. Perahu yang berfungsi untuk melakukan evakuasi warga bila terjadi banjir ada 13 unit, yaitu sembilan perahu aluminium di BPSDA Seluna, dua perahu karet di Pemkab Kudus, dan dua di Pemkab Pati. Beberapa kendaraan berat dan pompa air juga disiapkan untuk mengatasi banjir. Untuk meningatkan kewaspadaan, BPSDA telah memasang rambu tanda bahaya banjir di semua titik pantau. Sebagaimana diberitakan Suara Merdeka kemarin, ribuan meter tanggul Sungai Wulan, Sungai Logung, Sungai Dawe, Sungai Piji, Sungai Tunggul, Sungai Mayong, Sungai Gelis, dan Sungai Sani dalam kondisi kritis. Akibatnya, 3.159 jiwa penduduk (2.734 jiwa di Kudus dan 425 jiwa di Jepara) terancam banjir. Menurut keterangan, terdapat sembilan titik pantau di sepanjang tanggul kanan dan kiri Sungai Wulan yang bermuara di pantai Kedung Jepara. Yakni, di Dukuh Derok, Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Demak. Tanggul Derok bobol hingga dasar kali, sepanjang 100 m pada banjir bandang Februari 1993. Tanggul ini beberapa kali kritis, sehingga membahayakan Kudus selatan. Titik pantau juga terdapat di Desa Medini (Karanganyar, Demak), pintu dam Kencing Desa Jatikulon (Jati, Kudus), Desa Karanganyar (Karanganyar, Demak), Desa Setrokalangan (Kaliwungu, Kudus), Desa Kedungwaru (Karanganyar, Demak), Desa Berahan (Mijen, Demak), dan Wedung (Demak). Titik pantau di alur Sungai Juana terdapat di Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, Kudus, Desa Bulungcangkring (Jekulo, Kudus), serta Desa Tanjang, Kecamatan Gabus, Pati. Petugas khusus dari BPSDA Seluna ditempatkan di semua titik pantau tersebut. Dam Wilalung Kepala BPSDA Seluna Ir Agus Purwadi CES mengatakan, keberadaan Dam Wilalung yang diresmikan pada 1916 masih strategis dalam sistem pengendalian banjir di Kudus, Pati, Jepara, dan Demak. ''Dalam rapat koordinasi panitia pelaksana tata pengaturan air (PPTA), dibicarakan secara khusus prosedur operasi dam tersebut untuk mengantisipasi banjir,'' ujarnya, kemarin. Ia menuturkan, perintah membuka pintu banjir Dam Wilalung adalah membuka tiga pintu secara bertahap tiap 10 cm, atau setara dengan penambahan debit sebesar 4,75 m3/detik. Pembukaan pintu harus memperhatikan beberapa hal, yakni kondisi cuaca, situasi di daerah alur Sungai Juana, serta informasi Satlak PB Kudus dan Pati. Koordinasi juga harus dilakukan petugas piket titik pantau Sungai Wulan di Jembatan Tanggulangin (jalan raya Kudus-Semarang), terutama saat kondisi tanggul dalam status bahaya awas banjir atau muka air sungai sudah mencapai 0,5 m di bawah puncak tanggul. Mereka harus melapor kepada petugas di Bendung Klambu, Grobogan, dan BPSDA Seluna, saat itu juga. Koordinator Juana harus meminta laporan dari petugas jaga titik pantau Sungai Juana di jembatan Desa Tanjang, Kecamatan Gabus, Pati dengan menggunakan radio komunikasi. Intensitas laporan mengenai banjir disesuaikan dengan kondisi banjir. (yit-90m) |