| Jumat, 10 Desember 2004 | MURIA |
Tanggul Kali Golan Bobol di Dua LokasiPATI - Semakin menyempitnya alur Kali Golan yang berhulu di kawasan timur lereng Gunung Muria menyebabkan tanggul kali tersebut bobol di dua lokasi, masing-masing sepanjang sepuluh meter. Limpahan airnya menggenangi areal persawahan dan sebagian perkampungan penduduk di Desa Krandan Kecamatan Trangkil Kabupaten Pati. Kepala Subdin Binamarga Dinas Permukiman dan Prasarana (Diskimpras) H Yuswanto mengemukakan, hal tersebut baru kali pertama terjadi. Sebenarnya, pada awal musim hujan saat ini curah hujan di daerah hulu belum terlalu tinggi. Akan tetapi, isyarat terjadinya ancaman banjir sudah muncul di beberapa lokasi. Hal itu menunjukkan betapa parah tingkat penyempitan dan pendangkalan alur kali yang berhulu di kawasan timur lereng Gunung Muria akibat perilaku masyarakat yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Selain banjir, tanah longsor juga selalu mengancam. Hal itu, kata Yuswanto, hendaknya benar-benar disadari. Sebab, kerusakan alam dan lingkungan sekarang terjadi di mana-mana. Untuk mengatasi banjir di daerah hilir, seperti di Desa Krandan, pihaknya hanya bisa melakukan penanggulangan untuk sementara. Yakni, mengeruk endapan lumpur anak Kali Golan agar aliran air menuju ke laut lewat Desa Tlutup lebih lancar. Hanya, kendala lain juga muncul. Sebab, ternyata bangunan sippon (pasangan konstruksi) berbentuk gorong-gorong juga ambrol. ''Penyebabnya, selain sudah lama tertutup endapan lumpur juga tersumbat berbagai jenis sampah dari hulu,'' ujarnya. Jembatan Sehubungan dengan hal itu, lanjut Yuswanto, konstruksi pasangan itu harus diganti jembatan. Sebab, luapan air Kali Golan juga melimpah ke jalan Tayu-Juwana karena alur anak kali tersebut juga mengalami pendangkalan. Jika upaya penanganan yang dilakukan pihaknya saat ini bersifat darurat, hal itu semata-mata karena faktor biaya. Oleh sebab itu, untuk memperbaiki kondisi alur Kali Golan dan alur anak kali yang ada dibutuhkan dana tidak kecil, karena sekaligus harus menata aliran kali di Desa Tlutup. Khusus yang disebut terakhir, warga desa tersebut menyatakan tidak keberatan, tapi dengan syarat alur kali yang menuju ke laut juga dikeruk. Padahal, panjang alur kali tersebut jika sampai ke laut sekitar empat kilometer. Dengan demikian, normalisasi alur Kali Golan yang harus menerima tampungan air dari anak kali di beberapa desa seperti Pasucen juga di Kecamatan Trangkil, dan Sonean di Kecamatan Margoyoso, jelas membutuhkan biaya cukup besar. Sebab, masih banyak alur kali yang berhulu di kawasan timur lereng Gunung Muria juga mendesak dikeruk. ''Jadi tidak hanya itu. Sebab, kami juga harus konsentrasi menangani beberapa alur kali di wilayah selatan Kali Juwana.'' (ad-90e) |