logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 SEMARANG
Line

Bengkel Sutarno

Berharap Dokar Tetap Beroperasi

BAGI para pemilik dokar di Kota Salatiga, nama Sutarno (52) sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Lelaki saparo baya tersebut merupakan tumpuan utama para sais dan pemilik dokar bila kendaraan tradisional yang ditarik dengan kuda tersebut mengalami kerusakan.

Ya, Sutarno adalah seorang pemilik bengkel dokar yang berada di Dukuh Nanggulan, Kecamatan Tingkir, Salatiga. Dia pulalah yang - mungkin tinggal satu-satunya - pemilik bengkel dokar yang berada di Kota Salatiga, setelah sejumlah bengkel sejenis lainnya tidak beroperasi lagi. Itu terjadi seiring dengan munculnya alat transportasi modern yang menyaingi dokar.

Tidak sulit untuk mencari lokasi bengkel dokar Sutarno karena letaknya hanya sekitar 200 m dari pertigaan RS DKT di Nanggulan. Jika Anda bertanya kepada warga sekitar bengkel itu atau bertanya kepada para sais dokar pasti akan ditunjukkan letak bengkel dokar yang telah berdiri sejak tahun 1950-an itu.

Meski bengkel berikut peralatan yang dimilikanya terhitung sederhana, bisa dipastikan semua permasalahan dan kerusakan dokar dapat dibereskan oleh Sutarno.

"Biasanya, kerusakan pada dokar itu di sekitar roda karena memang hanya bagian itu yang sering mengalami kerusakan. Kalau sudah masuk sini pasti akan saya bereskan," ujar dia.

Sutarno menggeluti usaha bengkel dokar itu melanjutkan bisnis ayahnya yang bernama Mertodimerjo Salimin yang berdiri pada tahun 1952. Dia pun mulai bekerja membantu ayahnya pada 1970-an, ketika bengkel dokar mereka laris.

Kemudian pada 1989, Sutarno mengelola penuh usaha itu sendirian setelah ayahnya tidak mampu lagi bekerja.

Setiap hari, pemilik dokar yang datang untuk memperbaiki roda dokarnya 2-5 orang. Kalau memang lagi ramai bisa lebih dari itu, tetapi jika sepi, sehari pun dia tidak menerima perbaikan karena tidak ada yang datang.

Karet Melingkar

Kerusakan dokar biasanya terjadi pada rodanya yang terbuat dari kayu jati yang dilapisi besi dan karet melingkar. Kemudian kerusakan lainnya pbiasanya terjadi pada as roda yang disebut dengan istilah gulung dengan jeruji 14 buah yang juga terbuat dari kayu jati.

Selain memperbaiki roda dokar yang mengalami kerusakan, dia juga menerima pembuatan roda dokar baru dari bahan baku kayu jati.

Untuk membuat sepasang roda dokar, paling tidak harga yang ditawarkan sekitar Rp 800.000 sepasang atau Rp 400.000 satu roda. Adapun biaya untuk reparasi roda yang rusak itu bergantung pada tingkat kerusakannya.

Sutarno juga menerima pesanan pembuatan satu unit dokar lengkap tanpa proses finising atau pengecatan dan tanpa tambahan aksesori. Untuk melayani pesanan itu, paling tidak dibutuhkan waktu sekitar 2 bulan dengan harga sekitar Rp 3 juta.

Munculnya alat transportasi modern memang membuat keahlian Sutarno sedikit banyak agak terpengaruh.

Dia hanya bisa berharap agar dokar tetap bisa beroperasi di Kota Salatiga sehingga jasanya sebagai bengkel dokar tetap dibutuhkan.

Dari usaha bengkel dokar yang digelutinya itu, dirinya mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari bersama seorang istri dan 2 orang anak. "Ya lumayanlah, untuk membiayai kebutuhan hidup keluarga," ujar Sutarno. (Surya Yuli P-91n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA