| Jumat, 10 Desember 2004 | SEMARANG |
Dari Ciak Ban Mereka Belajar Sejarah''Sejarah itu bukan hanya catatan tanggal dan nama-nama, Florencio, sejarah itu sering juga masih tersisa di rerumputan, terpendam dalam angin, menghampar dari balik ombak.'' (Dialog dalam cerpen Pelajaran Sejarah karya Seno Gumira Ajidarma) DALAM pemahaman awam, belajar sejarah identik dengan aktivitas membaca buku dan menghafal isinya. Masa lampau yang tak lagi bisa diamati secara langsung, seolah-olah menjadi alasan pembenaran, sejarah mutlak dipelajari dari buku. Namun, pemahaman semacam itu coba ditepis Bintang Muhammad, guru mata pelajaran sejarah SMA Muhammadiyah 1 Semarang. Menurutnya, sejarah bisa dipelajari dan diajarkan melalui beragam media. Satu di antaranya sosiodrama. Apa yang dia lakukan sejatinya sebuah upaya meretas kejumudan yang acap dialami para siswa saat mempelajari sejarah. Karena itu, dia menyusun model pengajaran sejarah yang relatif baru dan revolusioner itu. Model tersebut akhirnya terpilih sebagai satu di antara 29 proposal guru di Jateng yang mendapat bantuan program Citisucces Fund 2004. Bintang melibatkan para siswa dalam perencanaan sebuah pementasan drama. Mengingat dia dan para siswa didiknya berdomisili di Semarang, lakon yang dipilih adalah Sam Po Kong. Menurutnya, historisitas tokoh tersebut perlu dikaji lebih dalam. Sebab, dialah tokoh yang menjadi pioner komunitas Tionghoa di seantero Nan Yang (Asia Tenggara). Dalam metode pengajaran tersebut, dia melibatkan siswa kelas III sebagai model. Pelibatan mereka dilakukan, mulai dari penggalian data untuk pembuatan naskah hingga pementasan. Penggalian data, kata Bintang, dibuat melalui riset, wawancara, dan kunjungan ke tempat-tempat yang terkait dengan Sam Po Kong. Begitupun sepanjang persiapan. Minggu (5/12) lalu, Bintang bersama para siswa yang terpilih menjadi pelakon drama tersebut melakukan ''ritual'' Ciak Ban di Kelenteng Gedongbatu Semarang. Jangan bayangkan itu sebagai ritual Tiongkok yang sebenarnya. Ciak Ban sebagai sebuah ritus hanyalah intepretasi historis atas pertemuan budaya Tiongkok dengan Jawa. Ciak, kata Bintang, berarti makan, sedangkan Ban adalah bersama. Jadi Ciak Ban artinya makan bersama. ''Ciak Ban yang dibawa Sam Po Kong selanjutnya berakulturasi dengan tradisi slametan masyarakat Jawa. Dari kata ciak ban, lahirlah istilah ban ciak-an, yang kemudian lazim disebut sebagai bancakan,'' jelas Bintang. Bertempat di depan ''makam'' Kiai Cundrik Bumi, kompleks Kelenteng Gedongbatu, Ciak Ban dilakukan. Mereka makan bersama, nasi tumpeng dengan lauk ingkung ayam, tahu, tempe, perkedel, dan gudangan. Seusai itu, para siswa latihan drama yang akan dipentaskan di Gedung Serbaguna Taman Budaya Raden Saleh, 20 Desember mendatang, pukul 19.00. Di bawah arahan pembina teater sekolah tersebut Widyo ''Babahe'' Leksono, Denis, Tata, Wila, Dias, Nanda, dan para pelakon lain serius berlatih. Namun, mereka terlihat enjoy. ''Drama akan memudahkan pemahaman siswa terhadap pelajaran sejarah. Mereka akan memahami peristiwa sejarah, bukan sekadar menghafalkannya,'' tandas Bintang. (Rukardi) |