logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 SEMARANG
Line

Bayi Kembar Tiga Diare, Satu Meninggal

SEMARANG- Salah satu dari bayi kembar tiga putra pasangan Joko Setyo dan Yuliatun, warga Purwomukti Barat, Pedurungan, kemarin meninggal dunia akibat terserang diare. Bayi berusia 2,5 bulan bernama Muttaqin itu meninggal tak lama setelah dibawa ke ruang instalasi gawat darurat (IGD) RS Panti Wilasa ''dr Cipto'' Semarang.

Sementara itu, dua bayi kembaran Muttaqin, yakni Abidin dan Fakhrudin masih dirawat intensif di Ruang Gamma RS Panti Wilasa ''dr Cipto''.

Dokter yang merawat Muttaqin, dr Sedyo Wahyudi SpA mengatakan, bayi tersebut dibawa ke rumah sakit itu pada Rabu (8/12) sekitar pukul 16.00. Saat pertama diperiksa, kondisi pasien sudah parah akibat dehidrasi dan infeksi akut.

Sekitar pukul 17.15 Muttaqin meninggal dunia di ruang IGD. Korban dimakamkan Kamis (9/12) pukul 09.00 di pemakaman umum Pedurungan. Dokter menduga kematian itu akibat kekurangan cairan tubuh karena diare akut.

''Kondisi ketiga pasien saat tiba di rumah sakit sudah sangat jelek. Selain dehidrasi, ketiga bayi kembar itu juga mengalami shock dan infeksi,'' kata dr Sedyo.

Keluarga Joko dan Yuliatun mengaku ketiga bayi itu menderita diare selama sehari semalam. Namun dr Sedyo menduga pasien sudah menderita diare lebih dari satu hari. Nenek korban, Waginah juga menduga ketiga cucunya itu sudah menderita diare selama beberapa hari.

Sementara itu, dua bayi kembaran Muttaqin hingga kini dirawat di Ruang Gamma RS Panti Wilasa ''dr Cipto''. Keduanya mendapat transfusi darah dan cairan infus. Menurut Sedyo, kondisi Abidin sudah membaik sementara Fakhrudin masih lemah.

Minuman Pengganti

Lebih lanjut dia mengatakan, penderita diare sebaiknya diberi minuman pengganti cairan tubuh. Setiap kali buang air, penderita diare harus diberi cairan pengganti berupa air susu ibu (ASI), larutan oralit, air rumah tangga (kuah sayur), atau air tajin.

Jika pemberian cairan tidak cukup mengganti cairan yang keluar akibat diare, saran Sedyo, penderita diare segera dibawa ke rumah sakit.

''Kekurangan cairan atau dehidrasi mengakibatkan sel-sel tubuh ikut mati. Jika sel-sel mati, pasien bisa meninggal dunia,'' ujarnya.

Meski sampai sekarang Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang menyatakan tidak ada kejadian luar biasa (KLB), penderita diare setiap bulan sekitar 3.000 orang. Selama tahun 2004, DKK Semarang mencatat dari 31.916 pasien diare, sebagian besar balita.

Seperti diberitakan Suara Merdeka baru-baru ini, Kasubdin Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) DKK Semarang dr Widoyono MPH mengungkapkan, meski tidak ada kejadian luar biasa (KLB) diare di Kota Semarang, penyakit menular ini perlu diwaspadai. Menurut Widoyono, golongan yang paling rentan terkena diare adalah anak-anak di bawah lima tahun (balita).

''Anak-anak lebih rentan terkena diare karena mereka belum mengerti tentang kesehatan. Padahal, diare menular akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat,'' kata dia. (H5,amp-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA