logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 INTERNASIONAL
Line

Konflik Keluarga Dibeberkan ke Publik

TOKYO - Pertengkaran sesama saudara kandung, ketegangan antargenerasi, dan istri putra mahkota yang mengalami stres berat. Itulah kekaisaran Jepang saat ini. Krisis! Demikian kata yang tepat untuk menggambarkannya.

Banyak pemerhati kekaisaran mengatakan, "krisis itu hanya dapat dipecahkan lewat keputusan yang membolehkan seorang maharani (kaisar perempuan) naik takhta.

Masako, istri Putra Mahkota Naruhito, adalah warga negara biasa - bukan berdarah biru - yang pernah menjadi diplomat karier ulung. Kamis kemarin, dia tepat berusia 41 tahun.

Namun dia terpaksa meninggalkan tugas-tugas resminya, Desember lalu, karena (menurut pengadilan) "kondisi mentalnya terganggu" akibat stres saat coba menjalani kehidupan di kalangan keluarga kekaisaran.

Disebut-sebut, di antara penyebab kemunculan penyakitnya adalah, tekanan pada putri lulusan Harvard University itu untuk melahirkan bayi laki-laki (calon kaisar berikutnya).

Anak pertamanya, Putri Aiko (3), dilahirkan delapan tahun setelah dia menikah dengan Putra Mahkota Naruhito. Aiko, berdasarkan UU yang berlaku sekarang, tidak boleh naik takhta sebagai maharani.

Apa yang dialami Masako memaksa Naruhito secara terbuka mengatakan pada Mei lalu: "Sejak kami menikah pada 1993, istriku kelelahan sendiri dalam upayanya mencoba menjalani kehidupan kekaisaran."

Sejak itu Putri Michiko (ibu Naruhito) dengan terang-terangan sering memarahi menantunya tersebut. Padahal, Michiko sendiri bukanlah perempuan berdarah biru.

Michiko dalam sejarah Jepang tercatat sebagai warga negara biasa pertama yang menikah dengan putra mahkota (sekarang kaisar) Akihito. Dan pekan lalu, Pangeran Akishino, adik laki-laki Putra Mahkota Naruhito, kepada publik mengeluhkan tindak-tanduk Masako.

Disindir

"Segala sesuatu yang terjadi sekarang ada kaitan dengan masalah yang dihadapi Putri Masako," kata Kenneth Ruoff, direktur Studi tentang Jepang di Portland State University. Dialah penulis buku mengenai kehidupan keluarga kaisar Jepang.

Perselisihan keluarga itu, yang diungkapkan kepada publik, terbilang aneh. Maklum keluarga kekaisaran Jepang mendapat dukungan kuat dari rakyat, setelah kaisar meruntuhkan batas pemisah dengan rakyat setelah PD II berakhir.

Sebelum perang, kaisar Jepang dianggap atau menganggap diri sebagai Dewa Matahari. Sekarang, kaisar coba menampilkan citra sebagai "monarkhi kelas menengah" yang jujur, patuh, dan jauh dari kesan hidup wah.

Pernyataan menyudutkan yang dilontarkan Michiko dan Akishino, menekankan komitmen keluarga kaisar Jepang pada tugas-tugas yang telah digariskan secara turun-temurun.

Sebaliknya, Masako punya keinginan yang bertolak belakang: bepergian dengan bebas ke luar negeri untuk menjalani tugasnya sebagai utusan Kekaisaran Jepang.

"Apa yang ingin dilakukan seseorang dan apa tugas-tugas resminya sebagai anggota keluarga kaisar, adalah hal berbeda," sindir Pangeran Akishino, pada suatu konferensi pers menjelang HUT-nya yang ke-39. "Saya rasa tugas-tugas resmi sifatnya pasif."

Survei-survei memperlihatkan, kebanyakan rakyat Jepang mendukung perubahan konstitusi saat ini, sehingga memungkinkan seorang wanita pun - maksudnya putri kaisar - berhak atas takhta dan menjadi maharani.

Garis Panjang Putra

Perdana Menteri Junichiro Koizumi melihat, tidak ada masalah dengan perubahan UUD. Dan para wakil rakyat dari partai berkuasa (LDP) juga telah memberikan lampu hijau bagi suatu amandemen.

Waktu mungkin singkat. Putri Aiko baru berusia tiga tahun, tetapi pada usia itulah pendidikan yang kompleks bagi seorang calon kaisar secara tradisi dimulai.

"Sekaranglah waktunya untuk mengajari dia tentang filosofi kekaisaran Jepang, dan menyiapkan mentalnya," kata Professor Hidehiko Kasahara dari Keio University. Dia pakar tentang keluarga kaisar.

Tetapi dia mengatakan, pertama-tama persoalan yang sekarang muncul harus dieselesaikan di balik pintu tertutup. Persoalan itu antara lain, apakah anak pertama yang dilahirkan kaisar praktis bakal jadi kaisar berikut, tanpa memandang unsur gender.

Kaum konservatif tentu saja menentang setiap perubahan, yang menurut mereka akan memutus garis laki-laki (yang belum pernah terputus sebelumnya sejak 2.600 silam) untuk jadi kaisar.

Padahal, Jepang pada masa lampau pernah diperintah oleh delapan maharani (kaisar perempuan), sekalipun tidak seorang pun di antara mereka yang menyerahkan mahkota kepada anak-anak mereka sendiri. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA