| Jumat, 10 Desember 2004 | INTERNASIONAL |
Pasukan Elite AS Siksa Orang Irak
WASHINGTON - Empat serdadu AS yang bertugas dalam operasi-operasi khusus pasukan elite telah dikenai sanksi indisipliner, karena menganiaya para tawanan di Irak. Penganiayaan tersebut meliputi penggunaan Taser - senjata beraliran listrik - secara ilegal, kata Pentagon (Departemen Pertahanan AS), Rabu waktu Washington. Aktivitas-aktivitas rahasia pasukan khusus tersebut muncul ke permukaan, Selasa lalu, setelah disiarkannya sebuah dokumen buatan Juni lalu. Dokumen tersebut menyebutkan, para anggota pasukan elite itu memukuli dan menyiksa orang-orang Irak yang ditahan di depan mata agen-agen Badan Intelijen Pertahanan (DIA). Mereka juga mengancam agen-agen tersebut agar tidak membuka mulut. Insiden penyiksaan tersebut terjadi pada musim semi, kata seorang pejabat AS. Ada serangkaian pembeberan tentang militer AS yang menyiksa tawanan di Irak dan Afghanistan. Lawrence Di Rita, kepala juru bicara Pentagon, mengatakan dalam suatu brifing bahwa keempat anggota pasukan khusus tersebut mendapat sanksi administratif dari militer AS. Sebab, mereka telah berlebihan dalam melakukan kekerasan yang melibatkan penggunaan senjata Taser tanpa berwenang. Alat tersebut, sekalipun tidak mematikan, dapat mengganggu aktivitas otot dan melemahkan fisik orang. Keempat anggota pasukan elite AS itu dipindahkantugaskan dari kesastuannya semula. Dua di antaranya bahkan dikeluarkan dari pasukan elite, tambah Di Rita. Komandan pasukan tugas khusus tersebut telah melakukan penyidikan mengenai kemungkinan penganiayaan tahanan dalam uninya, bahkan sebelum surat DIA ditulis, kata Di Rita. Ancam Agen DIA Namun dia mengatakan, tidak tahu kasus apa yang telah memicu penyidikan tersebut. Dia juga tidak menyebutkan nma komandan atau anggota pasukan yang terlibat. Dia tidak memberikan keterangan terperinci tentang sanksi indisipliner terhadap keempat personel tersebut, tindakan apa saja yang mereka lakukan, atau kapan sanksi indisiplin tersebut diberlakukan. Dia mengatakan tidak tahu apakah ada dakwaan pidana terhadap keempat personel pasukan khusus tersebut. Selasa lalu, American Civil Liberties Union (ACLU) menyiarkan surat tertanggal 25 Juni dari Laksamana Madya AL Lowell Jacoby - direktur DIA - kepada Stephen Cambone (wakil menteri pertahanan bidang intelijen). Surat tersebut menjelaskan secara terperinci penyiksaan tawanan oleh pasukan elite AS yang ditugaskan untuk mencari buronan "kelas kakap" di Irak. ACLU memperoleh surat tersebut berdasarkan UU Kebebasan Informasi. Surat itu ditulis dua bulan setelah foto-foto tentang serdadu AS yang menyiksa tawanan di Penjara Abu Ghraib (dekat Bagdad) diketahui oleh khalayak, dan lima bulan setelah para komandan militer Amerika di Irak kali pertama mengetahui skandal Abu Ghraib tersebut. Jacoby menulis bahwa dua agen DIA, yang bertugas di sebuah fasilitas penahanan di Bagdad, melihat keempat serdadu pasukan khusus itu memukuli wajah seorang tawanan sehingga tawanan tersebut membutuhkan perawatan medis. Menurut surat Jacoby tersebut, para agen DIA juga melihat para tahanan yang tiba di fasilitas penahanan itu telah menderita memar dan luka bakar pada punggung mereka. Para anggota pasukan khusus tersebut mengeluarkan ancaman untuk mencoba membungkam agen-agen DIA. Mereka menyita kunci-kunci kendaraan para agen dan menyuruh mereka pergi dari kompleks itu tanpa izin.(rtr-ben-30) |