logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 10 Desember 2004 BUDAYA
Line

Jelang FFI 2004 (1)

Penuh Gairah sebelum Mati Suri

JALANAN Jakarta, 30 Maret 1955, pukul 17.00 dipadati orang. Mereka bersemangat menyaksikan pawai artis yang filmnya ikut Festival Film Indonesia (FFI) untuk kali pertama.

Dengan wajah riang, nama-nama artis yang populer ketika itu seperti Rd Mochtar yang kemudian dikenal dengan sebutan Wd Mochtar, Netty Herawati, Sofia Waldy (Sofia WD), Turino Djunaid, Fifi Young, atau Bambang Hermanto menyusuri jalanan Ibu Kota dimulai dari Gedung Olahraga (bagian Lapangan Monas sekarang-Red). Menteri Pendidikan dan Kebudayaan waktu itu, Prof Moh Yamin SH, melepas mereka.

Kemeriahan itu membuka perhelatan festival yang diikuti 12 film. Sebut beberapa di antaranya adalah Harimau Tjampa (Perfini), Lewat Djam Malam (Perfini/Persari), Djakarta di Waktu Malam (Tan & Wong), Krisis (Perfini), Debu Revolusi (Ratu Asia), atau Belenggu Masjarakat (Raksi Seni).

Perhelatan terus berlangsung sebelum acara puncak 18 April tahun itu. Pemutaran tujuh dari 12 film yang ikut pada tujuh bioskop di enam kota besar memberikan harapan soal pasar film ketika itu.

Ambil contoh, Metropole, sebuah bioskop di Jakarta yang sebenarnya telah terikat kontrak dengan film impor dari MGM USA, pun berani memutar film Krisis dan laris hingga 5 minggu masa pemutaran.

Dinamika menarik pada perhelatan kali pertama itu bisa dijumpai pada munculnya pro-kontra ketika pengumuman pemenang dibacakan. Hal semacam itu pada FFI selanjutnya seolah-olah menjadi bumbu penyedap penyelenggaraan sekaligus penengara betapa dinamisnya ajang tersebut.

Ya, kontrovesi itu muncul karena adanya juara bersama untuk Aktor Utama (AN Alcaff dan A Hadi) dan Aktris Utama (Dhalia dan Fifi Young). Terlepas dari itu, film Lewat Djam Malam didaulat sebagai yang terbaik.

Boleh dibilang perhelatan besar orang film yang pertama itu sukses. Tak berlebihan misalnya kita perlu mengingat nama Djamaludin Malik (ayah Camelia Malik-Red). Sebab, dialah yang melontarkan gagasan untuk menyelenggarakan FFI pada tahun itu.Meskipun sebenarnya tujuannya lebih bersifat teknis, yaitu agar ada film yang mewakili Indonesia di ajang Festival Film Asia di Singapura Mei 1955.

Selain itu, berdasarkan buku ''Setengah Abad FFI'' tulisan SM Ardan, festival digelar karena produksi film menunjukkan tren naik. Lihat saja, dalam tiga tahun saja, jumlah produksi film setiap tahunnya terus meningkat. Dari 41 film pada 1953, 60 film (1954), hingga 65 film (1955).

Kenapa angka itu penting disebut? Sebab, ketika film nasional mati suri setelah FFI 1992, yang ada hanyalah film kacangan yang mengumbar ''ranjang dan hantu-hantu'' dan sangat jauh dari kriteria layak ikut festival. Beberapa pengamat termasuk pekerja film sepakat kuantitas produksi memberi pengaruh besar pada tidakadanya ajang seperti FFI itu.

Tidak Reguler

Ya, setelah 1955, gairah orang memproduksi film agaknya tak bisa dihentikan. Meskipun tidak reguler setiap tahun, paling tidak ada dua kali penyelenggaran event serupa, yaitu pada 1960 dan 1967. Tak tanggung-tanggung, ajang pada 1967 bahkan banyak disebut sebagai peristiwa untuk ''menyembuhkan'' luka akibat konflik G30S/PKI. Selain itu, tahun tersebut juga boleh dibilang awal munculnya film berwarna.

Orang-orang film unjuk gigi itu terus berlanjut. Nama-nama baru bermuncul. Beberapa di antara mereka tercatat sebagai legendaris. Sekadar menyebut, kita tentu tak bisa melupakan nama-nama seperti Teguh Karya, Sjumandjaja, Wim Umboh, Asrul Sani, Arifin C Noer. Untuk bintang film, orang tentu tak melupakan Tuti Indra Maloan, S Bono, Christine Hakim, Yenny Rachman, dan banyak lagi.

Tapi pesta dan kegairahan itu seolah-olah harus berakhir setelah FFI 1992. Setelah rutin tergelar setiap tahun sejak 1973 atau 20 kali, orang film harus menemui kenyataan tak adanya lagi ajang yang bisa memicu adrenalin mereka dalam membuat film.

Mereka seolah-olah hanya bisa meratap matinya film layar lebar sembari iri melihat maraknya film televisi. Walau begitu, kegairahan sebelum mati suri itu tetap menjadi catatan menarik. (Saroni Asikin-81)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA