logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 09 Desember 2004 NASIONAL
Line

Kehidupan Para Pemeran "Bajaj Bajuri" (2)

Ucup Asli Bukan Orang yang Selalu Sial


Pemeran Sinetron: Ucup (depan) berfoto bersama para pemeran Sinetron Bajaj Bajuri lainnya.(55) - repstarnova

SAMA halnya Rieke Diah Pitaloka, Fanny Fadilah pun lebih sering dipanggil dengan nama Ucup di luar lokasi syuting. "Nama Fanny kok malah hilang, yang muncul malah Ucup. Tapi nggak apa-apa kok, sudah risiko," ujar Fanny yang sebelumnya membintangi sinetron Lupus dan Buce Lee ini.

Fanny mengakui, baru di sinetron Bajaj Bajuri dia mendapat porsi cukup banyak dibandingkan dengan sinetronnya yang lain. Dia pun sangat menikmati perannya sebagai Ucup.

Antara Fanny adan Ucup memiliki perbedaan yang sangat jauh. "Jadi Ucup itu asyik, saya bisa jadi orang lain. Soalnya cerita hidup kami berbeda sekali. Mulai dari soal pendidikan, kehidupan sosial, bahkan soal cinta," ungkap sarjana lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Pendek kata, keduanya memiliki perbedaan 180 derajat. Bagai langit dan bumi. Ucup digambarkan sebagai sosok yang dungu, tak punya keterampilan bekerja, dan selalu gagal dalam bercinta.

Sebaliknya, Fanny adalah sarjana dan aktor yang cukup piawai. Sejumlah sinetron yang dilakoninya rata-rata sukses di pasaran. Meskipun perannya sebagai tokoh komedi, namun setiap karakter selalu berbeda.

"Yang paling beda ya Ucup itu. Yang jelas, saya bukan orang yang selalu gagal dalam bercinta," tandasnya.

Meskipun Ucup berpenampilan di bawah standar, Fanny tak mau menjalaninya dalam kehidupan sehar-harinya. "Ya saya harus tampil baiklah. Memang tidak berlebihan, tapi harus bisa membawakan diri dengan baik," ujar Fanny.

Fanny adalah sosok yang cukup menyenangkan. Kesan Ucup sama sekali luntur begitu berbincang dengannya. Gaya bicaranya santun, punya selera humor yang bagus tapi tidak terlalu vulgar.

Meski ada kesan sederhana, Fanny memiliki visi yang jelas dalam berkarya. Karakter Ucup memang sudah baku, agar tidak jenuh Fanny berusaja mengeksplorasi karakter itu.

"Saya lakukan supaya karakter Ucup tidak membosankan. Memang Ucup dari awal dikondisikan sebagai orang yang selalu gagal dalam bercinta, pengangguran, dan nggak punya uang. Nah tugas saya adalah membuat sifat-sifat itu tetap lekat di Ucup tapi nggak ngebosenin penonton," tuturnya.

Karakter lain yang tidak kalah menarik adalah Pak RT yang diperankan H Sudarmin. Lelaki kelahiran Boyolali, 14 April 1946 ini mengaku mengalami masa kecil yang kelam. Pak RT digambarkan sebagai sosok yang bijak meskipun masih sering digambarkan sebagai Pak RT yang doyan mengintip tetangga. Kenyataannya, dia adalah sosok yang amat setia pada istri dan keluarganya.

Sudarmin adalah sosok yang merintis karier dari bawah. Dia bahkan pernah menjadi pembantu rumah tangga agar bisa meneruskan sekolah. "Sampai kelas 2 SMP, saya jadi pembantu di rumah keluarga Tionghoa beranak enam di Semarang. Saya lalu ganti majikan yang mau menyekolahkan saya sampai lulus SPG," ungkapnya. Lulus SPG, dia kemudian mengajar di SD dan madrasah tsanawiyah. Tak lama mengajar, dia kemudian bekerja di sebuah hotel hingga delapan tahun. Meski berpenghasilan besar, dia memilih keluar demi bisa bekerja di dunia seni.

Dia pun hijrah ke Jakarta dan mulai aktif menjadi MC, ikut lomba dangdut, dan punya organ tunggal. Mulailah dia menjadi figuran di sejumlah sinetron. Sampai kemudian Didi Petet memintanya berperan sebagai ustad dan akhirnya dia lolos kasting sebagai Pak RT untuk Bajaj Bajuri.

"Di rumah kebetulan saya juga ketua RT, jadi tak sulit memerankan tokoh ini," katanya.

Bagaimana dengan Nanny Wijaya? Perannya sebagai emak yang materialistis dan culas serta ahli manipulasi sangat bertentangan dengan karakternya sehari-hari. "Yang pasti Nanny Wijaya tuh nggak matre. Saya juga bukan ibu yang menumpang pada anaknya. Saya selalu bersikap demokratis kepada anak-anak. Terserah mereka mau menjadi apa. Termasuk ketika almarhum Euis (Sukma Ayu) meminta izin menggunduli rambutnya untuk perannya di sinetron," ungkapnya menyebut putri bungsunya yang belum lama ini meninggal.

Berbeda dari perannya yang selalu berantem dengan Bajuri, dalam kehidupan nyata mereka justru sering saling curhat. "Sebagai sesama pemain, kami merasakan susah senangnya bersama-sama. Jadi, sudah seperti keluarga," tutur Nanny yang justru dikenal sebagai ibu yang bijak bagi anak-anaknya.(Tresnawati-63j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA