logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 SALA
Line

Warga Tambang Pasir, Jalan Terancam Putus

BOYOLALI - Beberapa warga Dukuh Banaran, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali, masih nekat menambang pasir. Padahal kegiatan itu secara resmi sudah dinyatakan ditutup oleh Pemkab.

Camat Andong Ahmad Qowim Suroso SIP saat dimintai konfirmasi Jumat kemarin mengakui masih ada kegiatan penambangan itu. Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya tujuh orang masih nekat menambang. Mereka beralasan belum menerima bantuan dari Bupati sebagai konsekuensi penutupan kegiatan penambangan itu.

''Karena itu, mereka pun tetap menambang untuk menghidupi keluarga,'' katanya.

Sebelumnya, Bupati dr H Djaka Srijanta memberikan bantuan kepada 54 penambang di Dukuh Jatirejo, Desa Sempu. Setiap penambang menerima uang Rp 1 juta dan beras 5 kg. Selain itu mereka diberi keterampilan seperti membuat kerajinan, mengelas, dan menjahit. Melalui bantuan dan keterampilan itu mereka diharapkan bisa mempunyai pekerjaan lain.

Dengan penutupan itu, warga tidak diperbolehkan melakukan penambangan. Bila mereka nekat, pemerintah akan mengambil tindakan. Bupati mengatakan, kegiatan tersebut harus ditutup karena membahayakan keselamatan dan lingkungan. Jalan desa juga terancam putus bila penambangan itu tidak dihentikan. ''Karena itu warga harus mampu mencari pekerjaan lain,'' kata Bupati setelah secara resmi menyegel penambangan pasir beberapa waktu lalu.

Timbulkan Korban

Qowim mengatakan, penambangan pasir itu sudah berlangsung puluhan tahun dan menjadi satu-satunya sumber penghidupan penduduk sekitar. Namun pada perkembangannya, penambangan itu sangat membahayakan lingkungan dan keselamatan jiwa.

Sebab, sudah ada sekitar sepuluh orang meninggal karena terjebak dalam galian pasir, terkena reruntuhan galian, atau kesulitan menghirup udara.

Untuk mendapatkan pasir, warga memang harus memasuki lorong-lorong tanah pada kedalaman 5-10 meter. Dalam lorong itu penambang memberi lampu penerangan untuk memudahkan pengambilan pasir. Dalam lorong-lorong itu juga dilengkapi dengan kipas angin. Sebab bila lelah, mereka sering beristirahat di lorong. ''Ini jelas membahayakan,'' katanya.

Kegiatan penambangan dilakukan secara kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 20 orang. Satu hari penambang rata-rata mendapatkan dua rit pasir atau delapan mobil pikap. Pasir itu laku terjual Rp 240.000. Setelah dibagi 20 orang, tiap penambang akan mendapatkan Rp 12.000.

Menurut Qowim, warga yang masih nekat menambang telah dilaporkan kepada Bupati secara tertulis. Bupati pun akan segera memberikan bantuan dan melarang mereka menambang lagi. (shj-85i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA