| Sabtu, 04 Desember 2004 | SALA |
Hujan, Penjual Es Mengeluh SepiDATANGNYA musim hujan merupakan berkah bagi petani di Klaten. Setelah mengalami musim kemarau cukup panjang, kini mereka bisa mulai menabur benih. Hujan akan membuat benih tumbuh dengan baik dan membuahkan hasil yang baik pula. Tapi datangnya hujan yang terus-menerus disertai udara dingin ternyata mengundang keluhan sejumlah penjual makanan dan minuman. Es yang biasanya laris, sejak musim hujan tak laku lagi. Kadang-kadang mereka terpaksa membuang dagangan karena telanjur basi sebelum dibeli pelanggan. Sejak seminggu terakhir hujan turun hampir setiap hari. Bahkan, kadang hujan turun dari pagi sampai malam tanpa berhenti. Penjualan es turun sampai 75%. Kini, mereka hanya mengandalkan penjualan makanan dan minuman hangat. ''Jualan es saya dalam seminggu ini sepi karena hujan. Hari ini, hujan dari pagi sehingga udara dingin. Sekarang hampir pukul 12.00 tapi es saya masih utuh, tadi ada yang pesan tapi cuma beberapa gelas,'' kata Bu Sipon, penjual makanan di dekat gedung DPRD Klaten. Padahal, es biasanya menjadi minuman favorit para pelanggannya, terutama es teh dan es jeruk. Karena sepi, mulai Senin nanti dia tidak akan berjualan es. Seminggu ini es batu yang dibeli lebih banyak dibuang karena tak ada peminat. Kini, para pelanggan lebih suka minum teh hangat, teh jahe, atau kopi panas. ''Saya tidak akan jualan es dulu daripada rugi, apalagi sekarang gula mahal. Kamis (2/12) masih Rp 4.300/kg, tadi naik menjadi Rp 4.700/kg. Mungkin pengirimannya susah karena terus-terusan hujan. Apalagi cabai juga naik dari Rp 1.500/kg menjadi Rp 5.000, harga bahan-bahan lain pun naik,'' ujarnya. Libur Dulu Ternyata hujan membuat rezeki penjual es menurun. Sundari (35) warga Klaten Selatan yang sehari-hari berjualan es juice dan es buah juga mengaku sepi pembeli. Di musim panas, wanita yang juga berjualan bahan-bahan kebutuhan rumah tangga itu mengaku dagangannya laris. Dalam sehari dia bisa menghabiskan 7-8 bungkus es. Tapi sejak hujan turun terus-menerus, kadang dua bungkus tidak habis. Maka, dia memilih tidak berjualan dulu karena sepi. Anak-anak sekolah yang biasanya menjadi pelanggan utama, kini enggan minum es karena udara dingin. Sepinya penjualan es juga dirasakan Ny Fauziah (37) warga Klaten Selatan. Dia biasa membuat es batu yang dibungkus plastik sebagai pekerjaan sambilan di rumahnya. Pelanggannya adalah penjual es dan para tetangga yang tinggal di dekat rumahnya. ''Lumayan untuk cari tambahan, bisa untuk bayar listrik. Tapi sekarang sepi, penjual es nggak jualan, tetangga juga malas minum es karena hawa dingin,'' ujarnya. Biasanya es yang dibuatnya selalu habis, bahkan kadang kurang. Tapi sejak hujan turun terus-menerus, dagangannya sepi. Menurutnya, dia mengisi penuh kulkasnya dengan bungkusan es sejak seminggu lalu, tapi sampai sekarang masih utuh.(Merawati Sunantri-85s) |