| Sabtu, 04 Desember 2004 | SALA |
7 Waduk di Wonogiri Masih KosongWONOGIRI- Meski musim penghujan di Wonogiri telah datang dan di beberapa daerah sudah menyebabkan bencana banjir dan menimbulkan tanah longsor, tujuh waduk di daerah tersebut masih kosong. Hal itu menunjukkan bahwa curah hujan di daerah itu masih rendah. Karena waduk kosong maka saluran irigasi teknis di beberapa daerah kecamatan belum terisi air secara maksimal. Bahkan beberapa di antaranya masih dalam keadaan mengering. Ketujuh waduk yang masih kosong itu adalah Ngancar di Kecamatan Batuwarno, Krisak di Kecamatan Selogiri, Plumbon, Kedunguling, Songputri, Parangjoho di Kecamatan Eromoko, dan Waduk Nawangan di Kecamatan Giriwoyo. Bambang, juru pengairan waduk membenarkan bahwa curah hujan di Wonogiri belum normal. Selain itu, semua pintu waduk dibuka. Itu merupakan pengaturan secara manual, agar air hujan tidak terhenti di waduk. Hal tersebut berkaitan erat, karena air hujan awal biasanya banyak membawa erosi lapisan tanah permukaan dari daerah hulu. Maka, belum layak untuk ditampung agar larutan erosi lapisan tanah permukaan yang terangkut tidak mengendap sebagai sedimentasi. Ketika air dari hulu tidak lagi banyak membawa muatan erosi barulah pintu waduk akan segera ditutup. Dia mengatakan, waduk berfungsi untuk menampung air hujan dan kemudian didistribusikan guna irigasi teknis. Waduk yang terlihat ada penambahannya baru di Gajahmungkur. Elevasi air waduk itu kini cukup tinggi. Lebih-lebih sejak pukul 00.00 Jumat (3/12) dini hari tidak digelontorkan ke saluran irigasi, karena pintu pengambilan air tersumbat sampah. Kasubag Pemberitaan Humas Pemkab Wonogiri Drs Mulyanto mengatakan elevasi saat ini lebih tinggi sekitar 1,27 meter bila dibandingkan dengan elevasi kemarau puncak lalu. Seperti diberitakan (SM, 17/10), di saat air kritis karena kemarau, elevasi Waduk Gajahmungkur tinggal 129,6 meter.(P27-85s) |