| Sabtu, 04 Desember 2004 | SALA |
Aparat Diminta Serius Tangani Kekerasan GenderKEPRABON - Data kekerasan yang masuk ke lembaga formal seperti kepolisian dan pengadilan, ternyata bertolak belakang dengan kondisi yang disaksikan sehari-hari di masyarakat. Data yang masuk sangat sedikit karena ada keengganan masyarakat untuk melaporkan berbagai kasus kekerasan berbasis gender. "Kekurangsadaran masyarakat untuk melapor atau sekadar menceritakan kasus kekerasan yang terjadi terhadap perempuan itu disebabkan oleh kendala psikologis dan kendala budaya. Salah satunya adalah ketidakyakinan kasus tersebut ditindaklanjuti oleh aparat, lantaran dianggap kasus kekerasan rumah tangga," kata Emi Lemsari, Koordinator Forum Perempuan Peduli Boyolali, dalam sebuah diskusi gender, kemarin. Budaya masih menajdi kendala karena selama ini budaya patriarki masih kuat. Karena itu memang perlu dilakukan pembongkaran terhadap pemahaman budaya agar muncul kesadaran tersebut. Dia mengatakan, karena kurangnya kesadaran itu, pihaknya terus akan melakukan sosialisasi dan menawarkan konsep Women Crisis Center (WCC) untuk menggugah para perempuan. Dengan dibarengi dengan berbagai pendidikan dan latihan, diharapkan WCC akan menjadi sebuah kebutuhan. Pihaknya siap mengadakan pendampingan terhadap korban kekerasan gender agar memiliki keberanian melapor serta memproses kasus yang dihadapi. "Kami siap melakukan itu," ujar dia.(an-17i) |