| Sabtu, 04 Desember 2004 | SALA |
Thiong Ting Dipenuhi Karangan BungaMengiringi Perginya Aktivis PendidikanPADA hari biasa, krematorium Thiong Ting Solo memang sering dipenuhi karangan bunga belasungkawa. Maklumlah, karena gedung yang berada di kawasan Jalan Kolonel Sutarto itu digunakan sebagai tempat untuk menyemayamkan jenazah. Namun yang terjadi kemarin sungguh berbeda dari hari-hari biasa. Jumlah karangan bunga yang begitu banyak hingga sampai memenuhi area halaman, membuat krematorium tersebut seperti bermandikan karangan bunga dukacita. "Hampir seluruh karangan bunga yang ada di sini adalah untuk mengungkapkan belasungkawa atas meninggalnya Bapak Ongko," papar salah seorang petugas, kemarin. Pemandangan yang tak biasa terjadi itu tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitar. Apalagi Ongko Tekno Wijoyo adalah salah satu korban yang meninggal dalam kecelakaan pesawat Lion Air jenis MD-82 di Bandara Adi Sumarmo, beberapa hari lalu. Sebenarnya jika tahu tentang profil dari almarhum, begitu banyak karangan bunga yang dikirimkan itu adalah hal lumrah. Ongko adalah tokoh yang memiliki jaringan komunitas cukup luas. Karena itu, bukanlah hal aneh kalau kemudian banyak yang merasa kehilangan atas kepergiannya. Bahkan sampai mantan Presiden Megawati pun mengirimi karangan bunga. Peduli Pendidikan Seperti yang dikatakan Johan, salah seorang rekan yang juga masih ada hubungan saudara dengan almarhum, Ongko yang kelahiran Surabaya 15 Mei 1950 itu dikenal sebagai tokoh yang begitu peduli dengan pendidikan, khususnya di lingkungan Kota Solo. "Dia termasuk salah seorang tokoh yang turut mendirikan Yayasan Pendidikan Kristen di Surakarta. Yayasan ini kemudian melahirkan beberapa sekolah formal seperti SD, SMP, dan SMA Kalam Kudus," paparnya. Selain itu, ungkap dia, almarhum juga aktivis di lingkungan Gereja Kalam Kudus. Di Yayasan Gereja Kalam Kudus, terakhir Ongko menjabat sebagai sekretaris yang sekaligus menjadi salah satu aktivis pendidikan di lingkungan yayasan tersebut. "Kalau yang di bidang keorganisasian, banyak sekali. Misalnya turut dalam Perhimpunan Fuqing Solo, Perkumpulan Go Hap, serta organisasi lain," tutur Johan. Ketika UNS mendirikan program pendidikan Bahasa Mandarin (D3), Ongko juga termasuk salah satu tokoh yang turut andil. Maka tak heran jika kemudian ada di antara pelayat yang datang dari kalangan akademisi UNS. Namun kini, tokoh yang aktivis pendidikan itu telah pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan istri tercinta, Indriati Tekno Widjoyo, dan tiga orang anak, yakni Yohanes, Felixtian, dan Serafin.(Wisnu Kisawa-17s) |