| Sabtu, 04 Desember 2004 | SALA |
Komunitas Gay, Waria serta Lesbian di Solo (2-Habis)Orientasi Seks yang Rawan HIV/AIDSBANYAK kalangan yang mengatakan kecenderungan seksual para gay, waria serta lesbian, sangat rentan terhadap penularan HIV/AIDS. Penyebabnya, mereka cenderung berganti-ganti pasangan atau seks bebas, meskipun masih dalam komunitas sendiri. Selain itu, aktivitas seksual mereka yang tidak sewajarnya juga memperbesar risiko. Lebih parah lagi, ada sebagian kecil yang juga pengguna narkoba atau obat-obatan injeksi secara bergantian. "Karena itu, kami ingin memberikan pendampingan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota dan PKBI Surakarta agar mereka mengubah gaya untuk urusan seksual dari yang berisiko menjadi lebih aman. Salah satunya dengan menggunakan kondom atau tidak berganti-ganti pasangan," kata Slamet Rahardjo dari Yayasan Gerakan Advokasi dan HAM Gay Surakarta (Gesang). Yayasan itu juga berupaya agar dari 350 anggota komunitas gay, waria serta lesbian yang terdata di Solo melakukan tes darah untuk mendeteksi HIV/AIDS. Namun dari sebanyak itu, baru sekitar dua persen di antaranya yang melakukan test blood. Meski mengakui di antara mereka yang melakukan tes darah dinyatakan positif terinfeksi HIV/AIDS, Slamet enggan mengungkapkan berapa jumlahnya. Saat ini kendala setelah mengetahui ada yang tertular, yayasan itu tidak tahu akan ke mana menyalurkan mereka yang mengidap penyakit mematikan tersebut. Membiarkan tetap berada di tengah-tengah yang lain, hal itu tidak mungkin. Selain sama halnya membiarkan penularan, si korban juga tak akan memperoleh perawatan semestinya. "Paling-paling, kami cuma bisa menyerahkan mereka ke rumah singgah. Kami belum tahu di mana crisis center untuk HIV/AIDS di Solo dan sekitarnya," paparnya. Pendekatan Keluarga Upaya meminimalkan penularan HIV AIDS di kalangan itu juga dilakukan dengan pendekatan terhadap keluarga. Meski pihak keluarga acap kali sulit menerima kenyataan tersebut paling tidak pihak keluarga mampu memberikan dukungan agar gay, waria atau lesbian itu tidak semakin terjerumus. Upaya tersebut bisa dibilang tak mudah, karena banyak yang oleh keluarganya tidak diakui. Di kota seperti Solo, untuk diakui di tengah masyarakat tak mudah. Penyebab gay, waria serta lesbian hanya mau "hidup" di dalam komunitasnya, lantaran di masyarakat mereka tak diberi kesempatan untuk eksis. Menurut mantan aktivis Perkumpulan Gay Nusantara di Surabaya itu, kota-kota besar seperti Jakarta terbilang lebih ramah terhadap kalangan minoritas tersebut. Masyarakat di Jakarta lebih membuka kesempatan bagi mereka untuk mengaktualisasikan diri. Berbagai upaya pendampingan dilakukan, meskipun untuk itu tak bisa dibilang gampang. Seperti diketahui, kalangan itu sangat tertutup terhadap orang luar. Namun satu hal yang tidak akan dilanggar, yakni mengembalikan mereka menjadi orang normal. Menurut beberapa gay yang ditemui Suara Merdeka menyebutkan, kelainan seksual itu bersifat genetis. Menurut mereka, menjadi gay, waria ataupun lesbian lebih banyak disebabkan faktor genetis. Kalaupun lingkungan terlibat, hal itu sangatlah kecil. "Kalau ada yang bilang menjadi gay awalnya karena pernah berhubungan dengan gay, itu tak benar," paparnya. (Evie Kusnindya-17s) |