| Sabtu, 04 Desember 2004 | PANTURA |
Mengenal Snake Hunter Club''Obat Itu Sumbernya dari Bisa Ular''MENGGELUTI binatang yang berbahaya karena mengandung bisa, tidak banyak dilakukan orang. Padahal sebenarnya banyak manfaat yang diperolehnya. Bahkan di antaranya kalau didalami justru berguna untuk pengobatan. Di Batang ada anak perkumpulan penyayang ular. Keberadaan kelompok itu ternyata kiprahnya lebih banyak pada bidang pengobatan alternatif melalui bisa yang berbahaya itu. Kelompok itu bernama Snake Hunter Club (SHC) atau kelompok pemburu ular yang anggotanya kebanyakan pensiunan dan sudah lanjut usia. ''SHC ini sebenarnya sudah tua. Masuk Indonesia sejak tahun 1960-an. Namun sampai sekarang perkembangannya masih lamban. Itu terjadi karena banyak yang kurang berminat menggeluti ular,'' ujar pembina SHC Batang Waloeyo Hadiwidjoyo (55). Dia menuturkan, salah satu penyebabnya, ular merupakan salah satu binatang yang paling ditakuti manusia. Padahal hewan berbisa itu sebenarnya bersahabat. ''Perlu diketahui, ular itu binatang jinak. Lebih dari itu, saya buka rahasianya, ular adalah gudangnya farmasi. Masih banyak yang belum mengetahui kalau obat itu sumbernya dari bisa ular. Jadi, gudangnya obat-obatan yang dijual itu ada pada ular,'' ujar pensiunan DPU. Karena itu, simbol farmasi atau di apotek pasti bisa ular. Itu menunjukkan bahwa dari bintang ular itulah obat-obat untuk penyembuhan penyakit itu berasal. ''Mana ada simbol farmasi atau apotek pakai paha ayam atau kepala kambing. Tentu seekor ular yang melilit gelas dengan mulut terbuka yang artinya, sedang mengeluarkan bisa untuk obat.'' Bisa ular itu setelah melalui proses, akhirnya digunakan untuk mengobati segala penyakit, kecuali patah tulang. Waloeyo menggeluti seluk-beluk ular sudah lama. Dia menuntut ilmu di Bandung, berguru kepada mantan anggota Paskhas TNI AU yang pernah bertugas sebagai anggota Pasukan Garuda di Kongo. ''Saya belajar dari guru besar (alm) Margana di Bandung. Dialah yang membawa SHC ke Indonesia sepulangnya dari Kongo. Ilmu tentang berburu ular dan memberdayakannya untuk berbagai pengobatan itu kemudian dikembangkannya. Saya salah satu murid yang kemudian mewarisi untuk penyembuhan alternatif,'' ujar Waloeyo yang juga Pimpinan Kesenian Ketoprak dan Campursari Cipto Laras itu. Di rumahnya yang asri di Jl Dr Sutomo Gang Damar 200 Batang, ada beberapa ular berbisa yang menjadi koleksinya. Ada ular weling, kobra (dumung), dan jenis-jenis ular lainnya. Karena itu, di jiwanya tumbuh dua sisi seni dan pengobatan. Bahkan, ular itu pun dia kembangkan dalam seni budaya. ''Ular ini jinak. Kalau saya suruh diam, ya nurut,'' ucapnya menunjuk ular kobra yang dibawa dari kadangnya. Saat akan difoto, dia meminta agar belakangnya ada dekorasi ketoprak agar kelihatan kontras. Ular tersebut selanjutnya diletakkan di atas kursi. Saat binatang melata itu bergerak, Waloeyo langsung memerintahkannya untuk tenang. ''Meneng, sing anteng ning kursi wae (Diam, yang tenang di kursi saja-Red)''. Rasa Takut Ternyata ular kobra itu menurutinya. Tidak bergerak sama sekali. Namun matanya terus menatap langkah ''sang juragan'', terlihat ada rasa takut. Bagaimana Waloeyo menggunakan ular untuk pengobatan? Ternyata bisa ular itu dia ambil untuk dijinakkan. Setelah melalui beberapa tahapan, selanjutnya baru bisa digunakan untuk penyembuhan penyakit. Dalam SHC, pengobatan atau pencegahan penyakit dapat dibagi menjadi tiga kelas untuk menjaga agar tidak terjadi komplikasi. ''Yang diminum adalah serum atau bisa ular yang sudah kami jinakkan. Ini urutan kelas pertama satu sendok makan bisa ditambah air tawar setengah gelas.'' Pencegahan pertama kategori kelas III manfaatnya akan membuat badan tidak mudah capai, tidak mudah masuk angin, semua luka cepat kering, antiinfeksi, tetanus, demam berdarah, malaria, dan antirabies. Setelah jangka waktu satu bulan harus minum lagi untuk naik ke kelas II. Setelah selesai kelas II, dalam jangka waktu satu bulan naik menjadi kelas I atau terakhir. ''Manfaatnya untuk mengantisipasi segala jenis penyakit tumor dan kanker.'' Setelah pensiun beberapa bulan lalu, hari-hari Waloeyo dilalui dengan memberikan pengobatan dari tempat satu ke tempat yang lain. Belum lagi yang mendatangi rumahnya. Semuanya dilakukan secara ikhlas. Kesibukan lainnya adalah melatih ketoprak. Bagi dia, ular dan ketoprak tak dapat dipisahkan. (Arif Suryoto-14n) |