logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 PANTURA
Line

"Yang Datang ke Kantor Pos Kini Bisa Dihitung Jari"

DAHULU jauh sebelum teknologi komunikasi mengenal piranti telepon seluler (ponsel), keberadaan jasa pengantar surat atau pos surat dirasa sangat dibutuhkan. Begitu penting peran pos surat, sampai-sampai menjadi ilham para penyanyi untuk membuat karya lagu bertema pos. Simak saja lagu-lagu kelompok musik legendaris Koes Plus yang menggambarkan sosok pengantar surat, lengkap dengan topi lusuh dan sepedanya. Atau artis kawakan Titiek Puspa yang setiap waktu menanti kedatangan Pak Pos.

Namun seiring dengan laju perkembangan zaman, keberadaan jasa pengantar surat kini makin tenggelam di tengah masyarakat. Munculnya teknologi SMS, secara dramatis mengubah perilaku masyarakat dalam berkomunikasi tertulis.

Perubahan itulah yang sangat dirasakan Sudargo (45), Kepala Kantor Pos (KP) Kecamatan Bumiayu. "Saya kira anak zaman sekarang sudah tidak mengenal pos," katanya.

Dia memang pantas khawatir. Dahulu ketika masih bertugas sebagai pengantar surat, dirinya tak ubah seperti seorang idola. Setiap hari kedatangannya selalu di nanti di setiap pintu rumah. Tak jarang kalau tidak berhenti di suatu rumah, salah seorang anggota keluarga memanggil dia untuk mampir.

"Pak, ada surat untuk saya ndak?" tanya orang itu.

Kini semua telah berubah. Jangankan masuk rumah, lewat saja kini orang sudah tidak menghiraukan lagi.

Perubahan itu tidak hanya dirasakan Sudargo. Tiga orang karyawan lain yang mengabdi di kantor pos terbesar kedua setelah KP Brebes tersebut juga mengaku kehilangan pelanggan tetap. "Kami kehilangan pelanggan hampir 85%," ujar karyawan lain.

Tinggal Satu-Dua

Penurunan jumlah surat yang masuk ke Kantor Pos Bumiayu bisa dilihat pada momentum Lebaran kemarin. Jika dua tahun yang lalu menjelang H-7 dan H+7 Lebaran KP Bumiayu dibanjiri warga, kini yang datang tinggal satu-dua orang. "Yang datang ke kantor pos sekarang bisa dihitung dengan jari," tuturnya.

Biasanya selama dua pekan menjelang dan setelah Lebaran, mereka melayani lebih dari 300 pengiriman surat. Sekarang, surat yang masuk tinggal 50-an buah. Perubahan drastis itu juga dirasakan dalam pengiriman ucapan hari raya antarinstansi pemerintah. Dahulu, kantor pos menjadi tempat andalan untuk berkirim ucapan Lebaran antarinstansi. Kini kebiasaan tersebut berubah total.

Penurunan tidak hanya dirasakan dalam momentum hari raya. Pada hari-hari biasa seperti sekarang, kantor pos kehilangan jumlah pengiriman surat cukup signifikan. Penurunan jumlah surat pada hari biasa diperkirakan dari 100 surat menjadi 10-an surat.

Untuk tetap bertahan hidup bagi Sudargo dan tiga karyawan lain, memang tidak mudah. Sebagai pegawai yang berada di lapisan bawah, mereka hanya dapat pasrah. Namun, mereka dapat sedikit lega. Kini PT Pos telah melakukan beberapa terobosan jasa layanan. Salah satunya yaitu melalui perjanjian kerja sama (PKS) dengan instansi negeri/swasta. "Kami menawarkan jasa untuk membantu berbagai kegiatan perusahaan," papar Sudargo.

Di antara PKS yang kini sudah berjalan adalah pengambilan uang pensiun bagi pensiunan pegawai negeri. Meski tersingkir dalam jasa pengantaran surat, masyarakat masih menggunakan pos dalam berkirim barang. Hanya, jumlah pengirim barang yang menggunakan jasa pos tidak sebanyak dulu. Hal itu tidak lain karena menjamurnya perusahaan jasa pengirim barang. "Jumlah jasa pengiriman barang kami memang menurun, tapi tidak sampai 50%," imbuhnya. (Suwandono-74s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA