| Sabtu, 04 Desember 2004 | PANTURA |
Tempat Nongkrong Kawula Muda Penggemar Teh PociMALAM makin larut, jarum jam menunjukkan pukul 23.30. Udara dingin di sekitar makin menusuk tulang. Namun segerombolan anak muda justru asyik bercengkerama sambil menikmati teh poci ala Paijo yang menggelar dagangan di emperan kios depan Pasar Induk Bumiayu, Brebes. Suasana malam seperti itu hampir setiap malam bisa dijumpai di kota kecil selatan Brebes tersebut. Pemilik warung yang mempunyai nama asli Faizin (57), cukup menggelar tikar, kemudian menyiapkan meja setinggi 40 cm dengan ukuran panjang satu meter dan lebar 75 cm. Warung Faizin alias Paijo, selama ini menjadi tempat nongkrong kawula muda Bumiayu. Tak jarang para orang tua juga menjadikan tempat itu sebagai tempat santai pada malam hari. Faizin sudah 16 tahun menekuni usaha tersebut. Selain menyediakan minuman khusus teh poci dengan makanan kecil tahu dan tempe mendoan, lelaki yang mempunyai hobi memelihara burung itu menyediakan menu makan malam nasi lengko dan rames. "Sajian khusus yang ramai pembelinya adalah teh poci dan tempe mendoan," paparnya. Sebelum membuka usaha sendiri, Faizin mengaku mengikuti saudaranya berjualan barang yang sama. Namun karena dirasa kurang menguntungkan, akhirnya dia membuka warung sendiri, tak jauh dari lokasi pertama. "Selama 16 tahun saya sudah berpindah-pindah tempat, tak jauh dari Kompleks Pasar Induk Bumiayu," tukasnya. Khas Yang unik dari usaha Faizin, karena begitu larisnya dagangan, setiap malam dia menghabiskan 30 kg tempe dan 10 kg adonan untuk bahan mendoan. Tempe mendoan yang dibuatnya memang khas, karena bentuknya kecil. Salah satu bahan penyedap yang dibubuhkan antara lain sayuran daun polong sehingga enak dan sedap jika dinikmati dalam keadaan hangat. Harga yang ditetapkan juga murah, teh poci Rp 2.000 dan tempe mendoan Rp 200.000 per buah. Dia menuturkan, pelanggan yang biasa datang selain kalangan muda, juga banyak tukang ojek dan kru angkutan umum yang mampir. Bahkan, terkadang kelompok pengajian dari desa sekitar sengaja datang menggunakan mobil untuk menikmati teh poci dan tempe mendoan. Untuk melayani banyak pembeli itu dia dibantu dua anaknya dan seorang pembantu. Bagaimana kalau serombongan orang datang minta dilayani teh poci? "Saya tetap siap melayani karena persediaan poci sampai 30 buah. "Dalam situasi sepi, biasanya satu orang disuguhi satu poci. Namun jika kebetulan datang rombongan lebih dari 30 orang, satu poci untuk dua orang. Tak jarang pengunjung warung Faizin membeli poci bekasnya yang terbuat dari tanah liat. Mereka senang dengan poci bekas karena aroma tanahnya sudah tidak ada. Tiap poci dijual Rp 25.000. Padahal poci yang baru harganya hanya Rp 15.000. "Penggemar teh poci biasanya minta poci yang sudah pernah dipakai karena di sini tiap malam melayani pembeli, mereka menyukai poci tersebut," paparnya. Dari hasil usahanya itu, Faizin mengaku cukup untuk membiayai hidup lima anaknya dan istri. Anak-anaknya juga yang kelak akan meneruskan usahanya. Yanto, salah seorang pelanggan tetap lesehan Paijo mengakui, tempat itu terkadang menjadi pertemuan anak-anak muda. Tak jarang kalangan tertentu dari tokoh masyarakat Bumiayu suka nongkrong di tempat itu. "Dari politikus sampai pimpinan organisasi kepemudaan dan tokoh masyarakat Bumiayu sering menjadikan warung ini sebagai tempat santai. (Wahidin Soedja-74n) |