| Sabtu, 04 Desember 2004 | PANTURA |
Hujan Repotkan PerajinProduksi Ikan Asin Nyaris LumpuhTEGAL - Perajin ikan asin (gesek) di Kota Tegal, selama musim hujan ini resah. Pasalnya, mereka merasa kesulitan untuk menjemur ikan. Kondisi tersebut tentu saja mengakibatkan produksi ikan asin nyaris lumpuh. Menurut seorang perajin H Makmuri (45), warga Jalan Layang, Tegalsari, sejak datang musim hujan, perajin ikan asin sudah mengurangi produksi. "Hampir semua perajin mengurangi produksi. Mereka yang biasanya mengolah 100 basket, kini tinggal 40 basket. Ya, mau bagaimana lagi cuacanya tidak lagi mendukung, terutama proses untuk penjemuran," katanya, kemarin. Selain itu, dia yang juga Ketua Koperasi Serbausaha (KSU) Gemah Ripah itu memaparkan, perajin kini juga berangsur-angsur mulai mengurangi tenaga kerja. "Biasanya, proses penjemuran itu melibatkan 15 tenaga kerja, sekarang mulai dikurangi enam orang. Kalau dipaksakan, tentu saja perajin bisa rugi karena produksinya juga dikurangi." Berdasarkan data di KSU Gemah Ripah, jumlah perajin ikan asin mencapi 60 orang. Sebagian besar hasil produksi ikan dikirim ke wilayah Jawa Barat. Praktis akibat hujan, produksi ikan yang disuplai berkurang. Dia menambahkan, kondisi tersebut juga diperparah dengan berkurangnya hasil tangkapan ikan karena musim angin barat mulai tiba. "Lelang ikan juga mengalami kesulitan, sementara itu proses pengolahan mengalami kesulitan karena cuaca tidak mendukung. Oleh karena itu, ada sebagian perajin yang menganggur. Kalau toh ada produksi, tidak seberapa," ujarnya. Ketua Forum Pemberdayaan Masyarakat Pantai (FPMP) Ir Edy Waluyo mengatakan, kondisi itu rutin dihadapi perajin ikan tiap tahun. Ironisnya, selama tiga bulan, yakni musim angin barat, mereka kebanyakan menganggur. "Hingga kini belum ada kesibukan alternatif. Berbeda ceritanya ketika mereka ada pekerjaan lain," jelasnya. Dia mengatakan, kalau perajin itu dipaksakan untuk terus berproduksi, tentu saja hasilnya tidak maksimal dan harganya jatuh. "Pada umumnya, harga itu ditentukan dari kualitas produk. Padahal, ikan asin yang diproduksi sekarang ini kurang maksimal." Dia mencontohkan, jenis ikan banyar yang standarnya 1 kg bisa mencapai 7 ons, ketika penjemuran tidak maksimal 1 kg menjadi 8 ons. "Kualitas produk yang tidak maksimal itu mengakibatkan harga jatuh. Seperti harga ikan layang yang biasanya Rp 4.000/kg kini hanya Rp 2.500/kg," tandasnya. (G12-74n) |