| Sabtu, 04 Desember 2004 | PANTURA |
Tembok Kelas II SMPN 1 RetakTEGAL - Satu deret ruang kelas II SMP Negeri 1 Tegal yang terdiri atas empat gedung, salah satu di antaranya kini retak-retak. Atapnya juga melengkung sehingga bangunan sekolah itu dikhawatirkan roboh. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, murid kelas II yang menghuni empat kelas semuanya dipindah ke lokasi lain di lingkungan sekolah itu. Rusaknya gedung sekolah peninggalan Belanda yang dibangun pada 1917 itu mengundang pihak terkait untuk turun tangan. Beberapa pejabat yang meninjau ke lokasi di antaranya Kepala DPU Ir M Wahyudi dan Kepala Kantor Humas Sumito SIP, Kasubdin Perlengkapan Dinas P dan K Drs Sipon didampingi Pengawas SLTP/ SLTA Drs Kusnan. Tak ketinggalan pula Ketua Komite SMPN 1 H Husein Afiff yang kebetulan juga Ketua Gapensi Kota Tegal memimpin pekerjanya untuk menurunkan genteng. "Genteng kami turunkan untuk mengurangi beban." Menurut Kepala SMPN 1 Drs Muharso SH MM kemarin, keretakan gedung itu mulai diketahui Rabu (1/12), setelah malam sebelumnya turun hujan lebat yang disertai angin kencang. Untuk mengantisipasi kemungkinan adanya murid yang kejatuhan genteng atau bahan material lain, semua murid kelas II D dipindah ke ruang lain yang lebih aman. Halaman samping kelas itu kemudian dilokalisasi dengan pembatas darurat. Hal itu dilakukan karena bekas material gedung itu berguguran sehingga memenuhi ruang kelas. Untung peristiwa itu terjadi pada malam hari. "Terus terang kami khawatir, kerusakan ruang kelas II D akan merembet ke tiga ruang lain yang satu deret. Sebab, saat ini sudah masuk musim hujan," ujar Muharso. Untuk itu, dia melaporkan masalah tersebut ke Dinas P dan K. Untuk kelangsungan proses pembelajaran, semua murid kelas II di empat ruang kelas itu dipindahkan ke Ruang Keterampilan dan Laboratorium. Bangunan Tua Wahyudi menuturkan, kerusakan itu terjadi karena kuda-kuda pada bangunan itu lepas. Karena tak ada pengaitnya, atap pun melengkung. Selain itu, belandarnya juga ikut lepas sehingga dikhawatirkan gedung itu akan ambrol. Untuk mengurangi risiko, ruang pengait dengan kelas lain dipotong. Hal itu dimaksudkan, kalau ruang kelas II D ambruk, tidak merembet ke kelas lain. "Kerusakan ini lebih diakibatkan oleh kondisi gedung itu yang sudah tua," tandasnya. Husein menambahkan, ciri khas bangunan peninggalan Belanda adalah dibangun tanpa semen, atau hanya campuran pasir, kapur, dan bata merah. Namun untuk merenovasi tentu dibutuhkan semen agar bangunan lebih kuat. Husein mengakui, dia bersama Wali Kota Adi Winarso SSos merupakan alumni SMPN 1 tersebut. (aj-14n) |