logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 OLAHRAGA
Line

Jalan Berliku Adriano Menuju Puncak

MILAN- Striker Inter Milan, Adriano digambarkan oleh pelatih Brasil Carlos Alberto Parreira bagai seekor kuda, kuat dan tak kenal lelah. Tidak hanya kekuatan fisik yang membuatnya seperti itu, tapi juga skill individunya yang prima. Adriano belajar banyak dari klub Brasil Flamengo dan kemudian di Parma, yang dipenuhi begitu banyak pemain top Serie A.

Latar belakang kehidupan yang keras, membuat dia banyak belajar bagaimana cara melalui banyak rintangan, ketika dia berjuang dari kepapaan untuk menjadi striker paling ditakuti dan dihormati dalam pertandingan.

Rekor Adriano (22) musim ini telah berbicara tentang siapa dirinya sebenarnya -- dalam 19 pertandingan di Serie A dan Liga Champions dia mencetak 17 gol, sebagian besar dihasilkan dari aksi individual. Selalu menjadi pemain paling spesial, Adriano seolah datang ke San Siro untuk membantu para suporter Inter melupakan "pengkhianatan besar" yang dilakukan pemain Brasil lainnya, Ronaldo, saat hengkang menuju Real Madrid.

Inter memiliki reputasi buruk, nyaris selalu melakukan kesalahan besar di pasar transfer -- menggaet pemain yang gagal tampil bagus dan menjual pemain lain yang justru menikmati karier luar biasa di tempat lain -- dan Adriano nyaris saja lepas dari tangan mereka. Ronaldo contohnya.

Tidak mengejutkan jika Adriano mampu beradaptasi dan selamat dari kesulitan pada pengalaman awalnya di Serie A. Dia tumbuh di Vila Cruzeiro, sebuah desa kumuh di Rio de Janeiro, dengan ayah Almir Ribeiro yang bekerja sebagai pesuruh dan ibunya Rosilda baru berusia 17 tahun saat melahirkannya.

"Penghasilan mereka kecil dan kehidupan kami sangat sulit," kata pemain itu.

Ketika dia berusia 10 tahun, ayahnya tertembak di kepala dalam sebuah baku tembak antargeng. Almir Ribeiro selamat, tetapi tidak bisa membayar biaya operasi, peluru itu masih tertanam di kepalanya. Ayah Adriano meninggal awal tahun ini, tampaknya karena gangguan jantung.

Adriano lantas keluar dari gubuk untuk bergabung dengan tim remaja Flamengo, tapi tak bisa menghindari ketakutan selama di bus dalam perjalanan melintas Rio untuk berlatih. Tak ada uang untuk ongkos naik bus itu. Dia harus mengenakan seragam sekolah agar bebas menumpang. Dan itu trik yang jitu. Di Flamengo dia bekerja keras untuk bisa masuk tim inti. Emerson Leao, pelatih Brasil saat itu, dengan cepat melihat potensinya dan memberinya debut internasional pada November 2000 pada usia 18 tahun.

Kedatangannya ke Inter pada akhir musim 2001 sama sekali tidak diperhatikan -- dia muda dan satu dari beberapa pemain tidak ternama di antara wajah-wajah baru. Namun, dia membuat dampak seketika dalam persahabatan pra-musim melawan Real Madrid, mencetak gol dengan tendangan bebas keras dari jarak jauh yang diulang sepanjang pekan-pekan musim panas berikutnya.

Itu sudah cukup membuat, setidaknya, diturunkan pada awal musim bersama Inter dibanding dipinjamkan ke klub kecil -- sebuah takdir yang harus dihadapi begitu banyak pemain muda baru di klub-klub top Serie A. Namun, setelah tampil delapan kali dengan sebuah gol, dia dipinjamkan ke Fiorentina. Sialnya, klub Florence itu terlilit kebangkrutan, sehingga tak ideal bagi seorang pemain muda tidak berpengalaman untuk belajar. Namun enam gol dalam 15 pertandingan dan penampilan meyakinkannya menujukkan dia memiliki masa depan di Serie A. Hanya, itu bukan masa depan bersama Inter.

Sebagai bagian rangkaian kesepakatan transfer, Adriano dijual ke Parma. Tapi ternyata itu semakin mematangkannya. Kepindahan itu memberinya kesempatan untuk tampil secara teratur di sebuah klub di mana tidak ada tekanan. Dan Adriano hanya membutuhkan satu musim untuk membuat Inter menyesali penjualannya. Dia mencetak 15 gol bagi Parma.

Parma kemudian juga bangkrut. Banyak klub lantas berlomba menariknya. Tetapi Inter cerdik dalam bertransaksi, dengan mempertahankan separuh pemilikan klub lama, mereka memiliki opsi pertama membelinya. (rtr,F3-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA