| Sabtu, 04 Desember 2004 | OLAHRAGA |
Terinspirasi Kecepatan Permainan di Liga InggrisTENDANG lari (kick and run) dan tendang kejar (kick and rush). Demikianlah kira-kira ritme yang bakal diterapkan arsitek Laskar Kalinyamat Rudy William Keltjes pada pertandingan yang dimainkan pasukannya pada kompetisi Divisi I musim mendatang. Ritme tersebut sebenarnya sudah dirintisnya sejak paro kedua kompetisi lalu. Namun, untuk kompetisi mendatang, alur gerakan yang membutuhkan tenaga ekstra tersebut akan lebih dimatangkan. Mantan pemain klub Niac Mitra Surabaya yang masih lihai mengolah si kulit bundar di lapangan hijau itu terinspirasi oleh gaya permainan klub-klub terkemuka di Premiere League. ''Kami sebenarnya memiliki gaya sendiri. Tapi apa salahnya gaya sepakbola Inggris kami jadikan inspirasi,'' katanya. Satu alasan yang membuat Keltjes apresiatif terhadap klub-klub di Inggris adalah dari sisi kecepatan aliran bola dari kaki ke kaki saat membangun serangan maupun saat turun bertahan. ''Saya begitu memimpikan di tim ini ada pemain yang memiliki daya jelajah dan pasokan bola seefektif Roy Keane dan Ryan Giggs atau jangkar-jangkar di Arsenal. Meskipun sulit untuk sekelas pemain kami, setidaknya anak-anak bisa belajar,'' katanya beberapa waktu lalu. Dari sinilah ia kemudian bersemangat untuk menempa mental anak-anak asuhannya agar tidak tanggung-tanggung saat bertarung di lapangan. Berulangkali saat latihan dia selalu menelisik mental para pemainnya, baik yang senior maupun yang masih yunior. Tak ada yang beda, semuanya sama. Jika terlihat bermental seperti ''nona-nona'' ia tak sungkan untuk mengatakan: Pakai kostum rok saja! Otot Kaki Keinginannya membentuk tim yang benar-benar berisi menjelang kompetisi mendatang, diawali dengan menempa kondisi fisik para pemain. ''Setelah libur kompetisi, selama 40 hari (sejak awal pekan lalu) kami bakal lebih memfokuskan pada pengembalian kondisi fisik,'' tuturnya. Latihan fisik perdana dilakukan di hutan Sananjaya ''Bukit Derita'', Desa Sekuro Kecamatan Mlonggo pada Selasa (30/11) lalu dengan materi ringan, jogging. Pagi kemarin, fisik para pemain kembali ditempa di tempat yang sama. Kali ini betul-betul ''menderita''. Mereka harus sprint sejauh 60 meter dengan medan naik sebanyak 20 kali. Setelah itu sprint sejauh 20 meter dengan medan naik yang juga sebanyak 20 kali. ''Idealnya masing-ma-sing jarak 60 kali dengan materi enam session. Tapi itu nanti. Bertahap,''katanya. Dalam latihan kurang lebih 1,5 jam kemarin tampak betul pemain yang kelelahan dan yang tidak. Wajah-wajah baru yang belum pernah mencicipi latihan seperti itu tampak sedikit lunglai. Gelandang Erwin Sugiarto (eks pemain PSSB) dan pemain sayap Maxi AP (eks pemain Persegi) adalah contohnya. Didit Thomas, Miro Baldo Bento, Haryanto ''Tommy" Prasetyo, Anjar JW, Widianto Ahmad dan wajah-wajah lama lainnya tampak prima. Meskipun oleh Keltjes dikatakan nafasnya bak suara lokomotif kereta. Ngos-ngosan. Ada dua bagian otot kaki yang menjadi penekanan dalam latihan tersebut. Pertama adalah otot paha kaki bagian depan (hamstring). Otot ini, menurutnya menjadi kekuatan saat berlari. Kedua, otot paha kaki bagian belakang (quadrisep), yang merupakan kekuatan saat kaki menendang bola. Dua otot tersebut akan rawan cedera/pecah (freaking), terutama bagi pemain yang berotot kaki pendek. Ia mencontohkan Noorhadi, Widianto Ahmad, Maxi AP, dan Oliviera. ''Pemain-pemain ini rawan cedera. Cara mengatasinya adalah dengan melakukan peregangan seusai berlatih dan bertanding. Tak boleh duduk-duduk,'' jelasnya. Setting awal dengan menguatkan otot kaki tak lepas dari keinginannya menerapkan ritme kick and run dan kick and rush. ''Tanpa otot kaki yang kuat, mustahil ritme itu akan terlihat saat pertandingan,'' katanya. Dibutuhkan stamina prima agar tetap konsisten dalam 90 menit permainan. (Muhammadun Sanomae-22) |