logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 WACANA
Line

Membanding Munir dengan Udin

Oleh: S. Hartono

SUNGGUH malang binatang tikus. Setidaknya ketika parameternya berada dalam bingkai persepsi kamanusiaan: buruk rupa, jahat perilaku, dan nista tempatnya. Binatang berukuran mungil ini tidak pernah bersarang di hati manusia kebanyakan. Walaupun, sebenarnya binatang kecil ini punya bakat untuk membangkitkan gemes: bentuknya yang kecil, tidak proporsional, dan bisa bergerak lincah.

Keadaan itu potensial untuk mengundang naluri "kebinatangan" manusia untuk bisa menitik kan afeksi padanya. Namun, dasar tikus, karena ia lebih menyukai bulu kasar dan warna gelap, maka ia gagal mengundang, kebinatangan manusia.

Selain faktor bulu kasar dan warna gelap, kegagalan tikus meraih gemes antara lain juga dipicu oleh ulahnya yang serba merepotkan manusia. Di sawah dia mengganggu petani dan di kantor ia mengobrak - abrik kertasnya si bos. Apalagi di rumah, ikan dendeng yang tinggal secuwil pun diendus di mana barang itu diletakkan.

Untuk perilaku yang demikian, maka tikus layak untuk dimusuhi, oleh siapa pun , kapan pun, dan di mana pun. Kalau di sawah petani-lah yang berhak untuk nguber di mana ia bersembunyi. Andai ketangkap, ia layak untuk diplintir, digebuki dan diinjak - injak hingga klenger.

Kalau di kantor demikian halnya. Sekretaris atau bahkan si bos boleh menangkap, mengekstradisi, dan mengirimnya ke laboratorium. Di sana, tikus akan dirumat (ditangani - bukan dipelihara) dengan "baik". Ia diberi makan, dimandikan, ditempatkan dalam ruang bersih; dan akhirnya(maaf) disembelih.Tentu untuk keperluan penelitian. Sedangkan di rumah, tikus disambut dengan tata penangkapan yang sistematis dan dramatis.

Pertama, rumah dinyatakan sebagai zone of vigelence. Dengan kondisi ini semua anggota rumah dihimbau untuk sadar bahwa tak sejengkal ruang rumah halal bagi binatang ini.

Kedua, penerapan strategi kolonisasi. Maksud saya tikus tadi ditangkap dengan menggunakan kolo. Dipilih cikalan (potongan kelapa yang sulit diparut) yang bagus, kerangkeng yang representatif, dan lokasi yang strategis. Malam hari dibiarkan lampu mati, dan dijauhkan dari sumber suara manusia. Mulailah drama kolonisasi.

Ketiga, penerapan strategi dengan lethal weapon, senjata kimia. Maksud saya tikus itu diracun. Untuk usaha ini sebaiknya dipilih ikan dendeng super atau bandeng presto. Bandeng dan dendeng tersebut perlu karena ekstrak kimia arsen yang ada di dalamnya pamali ketika terlihat tikus. Untuk menjamin arsen bisa bekerja dengan baik, sebaiknya takaran komposisinya harus sebanding dengan dosis yang biasanya digunakan untuk "menjamu" celeng.

"Ditikuskan"

Uraian di atas hanya ilusif, namun simetral ketika bingkainya ditempatkan pada bagaimana bangsa "mulia" ini memperlakukan sosok anak negeri ini yang dianggap berperilaku seperti tikus. Sosok - sosok "tikus" itu kan bisanya hanya bikin onar dan ngrecoki. Maka demi sebuah "ketenangan" maka mereka pantas untuk "ditikuskan".

Manusia tersebut tidak lebih berharga dari tikus, untuk itu mereka pantas untuk diteror, dipojokkan, diburu, dan bahkan dibunuh. Modusnya pun agar dramatis sebaiknya sama dengan skenario bagaimana memperlakukan seekor tikus: digebuk, diculik, dipenjara, dan bahkan diracun.

Andai ukurannya "ketenangan, ketentraman", maka Munir itu benar - benar hanya seperti tikus. Maksud saya Munir dan tikus sebanding. Munir tentu hanya sebuah klilip atau molo (menimbulkan perkara, sebab -red) yang tidak sedap dipandang mata.

Di mana pun, Munir selalu bikin onar. Pengusaha "alim" jadi tidak nyaman menganeksasi tanah penduduk yang bodoh. Pejabat 'terhormat' jadi sulit untuk memutasi bawahan atau orang mbalelo, apalagi (pensiunan) jenderal - jenderal; Munir selalu membikin mereka tidak nyaman mengelus - elus bintang yang dicapainya.

Kini Munir telah tiada, berarti molo bagi orang - orang "mulia" tadi juga sudah sirna. Ini berarti kemenangan bagi mereka.

Saya yakin, lemari itu, kalau bisa terujud pasti sudah penuh. Sekian keberhasilan telah diraih. Sebut beberapa diantaranya: T. Udin yang "hanya" wartawan Bernas, T. Moh Yamin yang "hanya" Jaksa, dan T Baharudin Lopa yang "hanya" seorang Jaksa Agung. T (te) yang saya maksudkan bukan tuan, namun (maaf) tikus. Manusia - manusia "usil" tersebut secara telak berhasil dikalahkan. Sama dengan Munir, cukup hanya dengan "racun".

Persetan dengan otopsi, toh hanya sekelas Munir, sekelas Udin, Lopa, atau Yamin. Kalau otopsi itu dilakukan, nanti malah bikin suasana jadi tidak tenteram.

SBY-pun tidak perlu bersikukuh mengungkap kematian Munir. Kalau ada orang menagih janjinya sewaktu kampanye, jawab saja kampanye telah usai. Rakyat harus dipahamkan bahwa drama politik tingkat tinggi memang membutuhkan strategi tinggi seperti itu. Apa pun caranya, termasuk (maaf) berbohong sah dilakukan. (18)

-S Hartono Guru SMAN 2 Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA