logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 WACANA
Line

tajuk rencana

Indeks Saham Menyentuh Level 1.000

-- Ini merupakan sejarah ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakara (BEJ) menyentuh level 1.000 atau tepatnya 1.000,221 pada sesi pertama perdagangan Kamis lalu. Walaupun gagal dipertahankan pada perdagangan sesi kedua, namun tetap menorehkan prestasi yang dapat memicu optimisme ke depan. Kenaikan indeks itu juga dipicu oleh kenaikan nilai transaksi perdagangan yang mencapai nilai tertinggi dalam sejarah BEJ, yakni Rp 2,4 triliun. Sebanyak 83 saham mencatat kenaikan harga dan hanya 72 buah yang turun. Sedangkan yang stagnan 216. Mayoritas saham unggulan atau yang berada di top gainer antara lain saham Astra International, Gudang Garam, Semen Gresik, dan saham PT Telkom.

-- Kecenderungan positif belakangan ini dengan penguatan indeks saham merupakan gejala menarik dan patut membuat lega berbagai pihak. Bagaimanapun bersifat jangka pendek atau ciclical, namun perkembangan indeksi masih menjadi indikator penting saat ini. Bahkan, reaksi sesaat atau detik demi detik dapat tergambarkan di sana. Angka 1.000 bisa dikatakan menjadi level psikologis di atas bagi Indonesia. Dan kalau itu sudah tersentuh bukan tidak mungkin akan melaju terus mendekati indeks saham di bursa-bursa ternama di dunia. Tetapi kita tak perlu tergesa-gesa mematok tinggi, karena bagaimanapun setiap terjadi kenaikan akan diikuti aksi profit taking. Dan aksi itulah yang akan mengerem laju kenaikan indeks saham di bursa.

-- Menurut kalangan analis, trigger penguatan indeks juga dipicu perkembangan bursa global. Kita mafhum pasar modal domestik pun selalu terkait dengan pasar modal dunia. Pelaku pasar di BEJ juga sebagian besar masih investor asing yang setiap saat bisa menarik dananya. Begitulah kondisi sebuah pasar saham yang memang sangat rentan fluktuasi. Namun kecenderungan atau arah tetap bisa terlihat. Kalau tidak ada sesuatu kejadian yang membuat shock atau luar biasa, fluktuasi biasa terjadi dalam range yang terbatas. Dan kita bersyukur sampai sekarang pemerintah menunjukkan komitmennya untuk bekerja sungguh-sungguh, sementara keributan di DPR sudah mereda. Secara makroekonomi pun tidak ada alasan untuk pesimistis menghadapi tahun 2005.

-- Selalu kita menilai apa yang dicapai dengan pencapaian level psikologis di tingkat atas, yakni 1.000, merupakan saat baik untuk lebih mempertajam berbagai policy di bidang ekonomi. Sampai dengan akhir tahun, kestabilan makroekonomi relatif terjaga. Kendati inflasi agak meninggi, masih tetap terkendali. Namun awal tahun depan berbagai persoalan muncul yang antara lain dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Antisipasi dini serta berbagai upaya preventif untuk mencegah dampak tampaknya sudah disiapkan. Kita ingin agar kenaikan BBM tak sampai membuat spekulasi meningkat dan munculnya gejolak yang tidak diinginkan. Setelah itu kondisi sosial politik yang sudah relatif baik makin dimantapkan.

-- Kita pasti juga mengharapkan perbaikan indeks benar-benar mencerminkan makin pulihnya kepercayaan investor terutama investor asing terhadap perekonomian Indonesia. Maka perlu terus didorong agar investasi yang masuk tidak sebatas portofolio di bursa, tetapi juga investasi langsung di berbagai sektor baik industri maupun jasa dan sebagainya. Tanpa itu, daya dorongnya bagi perekonomian masih akan terbatas. Karena itu, pemerintahan baru perlu mengeluarkan beleid-beleid yang merupakan kiat untuk menarik investor asing. Sudah lama kita seperti kehilangan momentum dengan membiarkan sektor riil bergerak sendiri. Padahal, kita tahu betapa banyak masalah yang terkait hambatan investasi yang belum terpecahkan.

-- Sampai sejauh ini belum jelas apa langkah konkret yang akan dilakukan tim ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, terutama dalam menggairahkan investasi dan mendorong ekspor. Sebaiknya pengkajian itu tidak terlalu lama, agar momentum yang sebaik ini tidak dilepaskan begitu saja. Seperti pada masa pemerintahan Megawati, selalu ada pertanyaan apakah perbaikan indeks saham dan indikator ekonomi yang lain lebih didorong prestasi di dalam negeri atau sekadar terimbas dari luar. Rasanya kedua faktor itu punya pengaruh signifikan. Hanya tidak ada artinya kalau yang meningkat hanya sebatas indeks saham, sementara realisasi investasi dan volume perdagangan barang dan jasa masih bergerak lamban terutama yang terkait dengan ekspor.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA