logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 SEMARANG
Line

Malem Rebo Kliwon Tosan Aji

Mari Nikmati Seni Apa Saja di Sini...

YA, mari nikmati seni apa saja di Tosan Aji. Sebuah ajakan -atau lebih tepatnya imbauan- yang tak berlebihan bagi Anda yang berkesempatan menghadiri acara rutin setiap 35 hari sekali di padepokan Jl Lusi, Sidomulyo, Ungaran itu.

Maklumlah, pada acara yang digelar para kesatria -begitu aktivis komunitas itu menyebut sesama anggotanya- hampir selalu tersaji aneka cita rasa seni. Pembacaan puisi bisa tampil di sela-sela sajian dangdut ataupun lagu pop "Kapan-kapan" milik Koes Plus.

Tak hanya itu. Monolog "serius" pun bisa pula dihadirkan untuk menggenapi "kembang setaman" ini.

Simak saja monolog Ida Utami: Apakah jika seseorang itu mengenakan peci seperti seorang kiai, berjubah laksana pendeta, dan pakaian-pakaian kesucian lain sudah dianggap baik dan suci? Tentu belum, tanpa diikuti amal kebaikan. Lalu bagaimana dengan seorang pelacur yang setiap hari menjajakan dirinya menghidupi dan menyekolahkan anak yang kurang beruntung, dianggap hina? Juga belum tentu.

Rileks Saja

Suntuk menikmati keseriusan Ida, penonton perlu rehat sejenak. Sebab, parade seni itu pun terus berjalan dengan warna lain.

Seusai monolog, penonton disuguhi keroncong, pop, dan dangdut oleh Mas Dhimas. Rasa keakraban dan kekeluargaan pun tercipta.

Budi Maryono, cerpenis yang juga wartawan Suara Merdeka, rupanya dihadirkan untuk melengkapi warna itu. Bukan membaca cerpen karyanya, melainkan: membaca puisi cinta!

Lewat puisi "Kerokan", dia hendak menggambarkan kebahagian seorang suami yang bisa mencecap kegembiraan di keluarganya, betapapun bersahajanya. Ia selalu bisa berdendang dengan ditingkahi nyanyian merdu sang istri dan suara-suara riang anak-anaknya. Dia bisa begitu meskipun hanya menghuni sebuah rumah kontrakan yang kecil. "Ruang yang mungil itu serasa lapaaaaang sekali...," ucap Budi yang sesekali suaranya meninggi.

Kandang Widodari makin penuh cinta. Sebab, larik-larik puisi Yusri dan Gunoto Saparie turut memenuhi ruang yang tidak begitu luas itu. Penampilan Ableh Three dari IKIP PGRI pun membuat udara dingin Ungaran seakan terasa hangat. Joke segar tiga pemuda itu memungkasi acara . (Rony Yuwono-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA