| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Hujan Angin, Warga Takut Pohon Tumbang
SALATIGA - Hujan lebat diikuti dengan tiupan angin kencang yang terjadi di Kota Salatiga selama beberapa hari ini membuat khawatir para penggunan jalan di beberapa sudut kota. Pasalnya, mereka khawatir, kalau-kalau ada pohon yang tumbang atau dahannya patah menimpa pengguna jalan yang melintas. Berdasarkan pantauan Suara Merdeka, sejumlah lokasi jalan yang banyak ditumbuhi pohon besar berada di sepanjang Jalan Diponegoro, Jalan Veteran, Jalan Kartini, Jalan Sukowati dan ujung selatan Jalan Jenderal Sudirman, serta beberapa tempat lain. Sampai sejauh ini, akibat hujan lebat dan tiupan angin baru ranting pohon dan dahan kecil yang rontok dan patah. Warno (32), pengemudi angkutan kota yang selalu melewati Jalan Kartini Salatiga mengungkapkan kekhawatirannya ketika melintas di jalan tersebut. Sesekali ketika mengendarai kendaraan saat hujan lebat, dia selalu melihat ke atas kalau-kalau ada dahan atau pohon yang tumbang. "Wah, kalau lagi apes, bisa-bisa kejatuhan dahan yang patah. Daripada tidak tenang lebih baik ngetem saja di Tamansari," kata dia kepada Suara Merdeka, Jumat (3/12). Hal yang sama juga disampaikan Dony (22), mahasiswa yang ditemui ketika berada di sebuah warung internet (warnet) di Jalan Diponegoro. Dia tidak berani lagi memarkir kendaraannya di bawah pohon besar di jalan itu. "Lebih baik saya parkir jauh dari pohon besar, kalau-kalau ada dahan yang patah." Pengajar Fakultas Pertanian UKSW Salatiga Dr Ir Sony Heru Priyanto mengemukakan, dinas terkait Pemkot seharusnya sudah mulai memikirkan soal peremajaan tanaman tua yang rawan tumbang. Untuk itu, perlu segera diteliti pohon mana saja yang sudah tidak layak, kemudian segera dilakuan peremajaan dengan tanaman pengganti. Selain itu, sejumlah ranting dan pohon yang dinilai dapat mengganggu dan berbahaya bisa segera dipotong. "Kalau memang harus ditebang demi keamanan pengguna jalan yang melintas di tempat itu, mengapa tidak? Akan tetapi, sebaiknya dilakukan dulu peremajaan atau konservasi dengan tanaman pengganti sehingga ekosistem di lokasi tersebut tidak terganggu," ujarnya. Sony menekankan, agar tidak dilakukan penggantian dengan tanaman tiruan berbentuk lampu hias seperti yang terjadi di beberapa kota. Dia menyarankan, tanaman pengganti itu bisa berupa pohon hutan yang menguntungkan.(H2-73j) |