logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 SEMARANG
Line

Tak Setuju Lokasi Sumur, Warga Datangi Distamben

  • Dinilai Tidak Tepat Sasaran

SEMARANG - Puluhan warga Desa Batursari, Mranggen Demak, Jumat (3/12), mendatangi kantor Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Jateng. Warga tiba sekitar pukul 09.30 dengan menumpang truk.

Puluhan warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Bersatu (FMB) itu meminta Distamben menyelesaikan perselisihan terkait dengan lokasi pembangunan sumur artetis.

Program pemanfaatan air bawah tanah (ABT) yang didanai APBD Jateng itu diprotes lantaran lokasi pengeboran sumur dinilai tidak tepat sasaran. Warga mengatakan, sumur itu seharusnya tidak ditempatkan di Dukuh Tlogo, tetapi di Dukuh Kayon atau Daleman.

"Di Dukuh Tlogo sudah ada dua sumur artetis milik panti asuhan yang biasa dimanfaatkan warga sekitar. Sementara itu warga Kayon dan Daleman harus ngangsu sejauh 2-3 km untuk mendapatkan air bersih," tutur Soeharno.

Kebutuhan air bersih di Dukuh Kayon dan Daleman terbilang tinggi karena banyak perajin tempe. Namun Distamben justru menempatkan sumur di atas tanah milik Asyhadi, mantan Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD), tanpa persetujuan warga.

Warga menilai pemilihan lokasi sumur di tanah milik Asyhadi itu tidak tepat sasaran. Ditengarai, Ketua BPD dan Kepala Desa (Kades) Batursari tidak menyosialisasikan program itu kepada warga.

Beberapa waktu lalu, warga Dukuh Kayon dan Daleman juga menggelar aksi di balai desa. Mereka mendesak Ketua BPD Batursari Asyhadi mundur dari jabatan Ketua BPD dan membuatkan sumur artetis di Dukuh Kayon.

"Kami meminta Distamben tidak meresmikan sumur yang ada di Tlogo sampai sumur pengganti di Kayon jadi dibor. Peralatan seperti tower, pompa, dan pipa juga diambil warga untuk ditempatkan di sumur Kayon," kata Sutiarno, koordinator FMB.

Ketua BPD Batursari Asyhadi yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan sanggup mengganti biaya pengeboran sumur di Dukuh Kayon. Meski sudah disanggupi, warga mendesak Distamben mengawasi sumur pengganti yang akan dibiayai Asyhadi. Warga meminta kualitas pengeboran sumur yang baru harus setara dengan biaya pengeboran sumur yang ada di tanah milik Asyhadi.

Hampir Selesai

Sementara itu, dalam pertemuan dengan perwakilan warga, Kepala Distamben Jateng Ir Eddy Haryono Dipl Eng mengatakan, proyek pembuatan ABT di Batursari itu sudah 90% selesai.

Proyek yang didanai APBD Jateng 2004 itu senilai Rp 130 juta. Selain di Demak, Distamben melakukan pengeboran di 10 kabupaten lain dengan total nilai proyek sekitar Rp 1,5 miliar.

Eddy mengingatkan, pertanggungjawaban administrasi dan keuangan proyek itu harus sudah diselesaikan sebelum 31 Desember. Pemindahan ke Dukuh Kayon, kata dia, bisa saja dilakukan. Namun Eddy meminta warga membuat surat pernyataan yang dapat ditunjukkan sebagai laporan kepada Gubernur.

Menurut Eddy, hasil survei geolistrik yang dilakukan Distamben menunjukkan, debit air di Dukuh Tlogo termasuk baik. Saat ini, pada kedalaman pengeboran 120 meter, debit air yang keluar sebanyak 3,3 liter/detik.

"Namun jika warga menghendaki tetap membuat sumur di Kayon, tidak masalah. Apalagi Ketua BPD juga sanggup membiayai pengeboran," tegasnya.

Pihak Distamben justru terkejut ketika mengetahui sudah ada sumur ABT di Batursari. Eddy mengatakan, sumur itu kemungkinan tidak berizin. "Jika benar tidak berizin, kami akan segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi," ujarnya. (H5-73n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA