| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Balita Paling Rentan DiareSEMARANG- Selama musim hujan, anak-anak di bawah lima tahun (balita) paling rentan terkena diare. Meski data yang masuk ke Dinas Kesehatan Kota (DKK) menunjukkan jumlah pasien dewasa lebih banyak dibandingkan dengan pasien balita, balita tetap dinilai lebih rentan. Kasubdin Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P) DKK Semarang dr Widoyono MPH mengungkapkan, rentang umur balita lebih pendek dibandingkan dengan rentang umur pasien dewasa. Anak-anak, kata dia, jauh lebih mudah tertular diare karena belum mengerti cara menjaga kesehatan diri. "Anak-anak lebih rentan terkena diare karena mereka belum mengerti tentang kesehatan. Padahal, diare menular akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat," kata dia. Menurut Widoyono, diare dapat dideteksi dengan mudah. Jika seseorang buang air besar tiga kali berturut-turut dengan frekuensi sering dan cair, dapat dikatakan terserang diare. Akibat diare, baik balita maupun orang dewasa dapat kekurangan cairan tubuh. "Kalau balita terus menangis tapi tidak keluar air mata, itu tanda sudah kekurangan cairan tubuh. Apalagi kalau matanya cekung, lemas, dan gelisah, penderita diare harus segera dibawa ke rumah sakit," ungkap Widoyono. Untuk mencegah kekurangan cairan tubuh, Widoyono menyarankan agar penderita diare diberi minum oralit sebanyak-banyaknya. Larutan oralit, kata dia, dapat dibuat sendiri dengan melarutkan satu sendok makan gula pasir dan satu pucuk sendok teh garam dapur ke dalam segelas air matang. "Larutan oralit bisa terus diminumkan selama anak buang air besar. Jangan khawatir kelebihan larutan oalit," sarannya. Menular Cepat Meski tidak sampai memakan korban jiwa, diare dapat menular dengan cepat. Diare dapat menular melalui vektor seperti lalat, tanah, menular langsung, atau menyebar lewat air. Air yang tercemar kuman, misalnya, jika dikonsumsi akan menularkan diare. Sementara itu, Manajer Diagnostik RS Telogorejo Agung Sudarmanto mengungkapkan, pencegahan diare dapat dilakukan sejak dini. Para ibu dan pengasuh balita harus membiasakan cuci tangan sebelum membersihkan anak yang buang air besar, setelah membuang kotoran anak, setelah buang air besar, dan sebelum menyiapkan makanan atau minuman. Agar balita tidak gampang terserang diare, ASI perlu diberikan hingga anak berusia 2 tahun. Selain itu, cara penyapihan harus baik, dan jangan memberikan makanan tambahan sebelum anak berusia 4 bulan. "Jika balita terserang diare, pemberian ASI jangan dihentikan. Kalau susu pengganti ASI akan diencerkan boleh saja, namun tetap berikan makanan atau susu," paparnya. Agung juga mengimbau masyarakat agar membuang kotoran di jamban, bukan di sungai atau kebun. Hasil penelitian menunjukkan, buang air besar di jamban dapat menurunkan angka kesakitan diare hingga 22-27% dan menurunkan angka kematian akibat diare hingga 26-30%. (H5-89) |