| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Belajarlah dari Persahabatan BarbiePUTRI Anneliese terhenyak. Dara cantik beraut serupa dia tiba-tiba saja muncul. "Aneh, siapa dia?" pikirnya, "mana mungkin ada Aneliese lain yang sungguh mirip. Kalau toh kembar, tentu tak akan identik." Lebih kaget lagi, mata Julian, guru pribadinya melotot, nyaris tanpa kedip. Yang membedakan mereka cuma warna rambut. Putri berambut pirang, sedangkan rambut gadis kampung itu cokelat. Keduanya pun bersahabat. Anneliese yang jatuh hati pada Julian diminta ibunya menikahi Raja Dominck. Secara politis, perkawinan itu bisa melindungi pemerintahan sang ibu, Ratu Genevieve, yang tengah terancam. Sayang, sebelum seluruhnya berhasil, putri telah diculik oleh Preminger, penasihat Ratu. Rupanya, pria licik itu berambisi merebut takhta kerajaan. Itu hanya sepenggal kisah The Princess and The Pauper, film musikal keempat dari sekuel Barbie. Kisah lengkapnya bakal mengisi perayaan akhir tahun 2004 di Mal Ciputra, 10-28 Desember . Dalam peralihan "kariernya" dari boneka mati ke boneka hidup, produk mainan anak perempuan ini untuk kali pertama akan diluncurkan dalam bentuk boneka bernyanyi. Serupa dengan dongeng sealiran HC Andersen lain, kisah ini pun berakhir bahagia. Alurnya mudah, lurus, nyaris tanpa intrik. Meski simpel, cerita ini sangat dekat dengan anak-anak perempuan sehingga Mattel, pabrikan boneka Barbie mati-matian mempertahankan kisah putria-putrian ini sebagai cap dagang. Tidak main-main, beberapa seri terdahulunya, Barbie of Swan Lake dan Barbie as Rapunzel mampu mendongkrak penjualan produsen asal AS tersebut. Secara psikologis, cerita yang diadaptasi dari dongeng Prince and the Pauper itu ternyata mampu mengukuhkan label barbie sebagai "boneka gadis kecil". Menurut Brand Manager Barbie Indonesia, Pauline Mulyadi, karakter putri sengaja dilekatkan pada Barbie untuk membangun citra perempuan yang tangguh. (Renjani Ps-89) |