| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Pagi ini Warga Pucung Temui Wali KotaMinta Potongan 10 Persen DibatalkanSEMARANG-Warga Kp Pucung Kelurahan Bambankerep Kecamatan Ngaliyan, pagi ini mendatangi rumah dinas Wali Kota H Sukawi Sutarip di Jl Abdurrahman Saleh. Kedatangan mereka untuk mengadukan masalah pemotongan nilai ganti bangunan 10 persen yang dilakukan PT IPU. Mereka berharap, wali kota mau mendengar keberatan warga, dan menyampaikannya kepada pihak perusahan itu. Warga tidak datang secara berombongan, seperti saat menggelar aksi demo di Balai Kota beberapa waktu lalu, melainkan diwakili delapan anggota Tim Penyelesaian Kampung Pucung (TPKP), yakni Kahono, Muchson, Wandi, Khomeidi, Kardiman, Samsudin, Gito, dan Suwandi. Potongan 10 persen, kata Ketua TPKP Kahono sangat tidak berdasar. Sebab, nilai ganti bangunan yang ditentukan tim dari Pemkot, telah dihitung secara detail menurut satuan material bangunan. ''Lha, kalau dipotong, rumah kami di Gunungkelir jelas nggak bakal jadi.'' Selain itu, kedatangan warga juga untuk menyampaikan beberapa persoalan lain, menyangkut proses relokasi yang masih mengganjal. Antara lain pemindahan rumah warga yang dilakukan secara bertahap. Warga meminta setiap tahap dilakukan minimal dua RT. Sehingga dengan enam RT yang ada di Kp Pucung, proses relokasi dapat diselesaikan dalam tiga tahap. Persoalan lain yang juga disampaikan, mengenai pembatalan siteplan yang telah dibuat Pemkot. Sebab menurut warga, siteplan itu tidak dapat diterapkan dengan sistem satu banding satu. Warga berkeinginan, masalah siteplan diserahkan sepenuhnya kepada mereka. ''Kami ingin siteplan yang ada, seperti memindahkan gambar Kampung Pucung ke Gunungkelir, sehingga dirasakan lebih adil. Warga di Pucung yang punya rumah di dekat jalan akan dapat ganti tanah di dekat jalan juga. Kami yakin, model semacam ini lebih bisa diterima warga dibandingkan siteplan yang ada sekarang.'' Semakin Parah Sementara itu, hujan yang turun beberapa hari terakhir menyebabkan warga semakin merasa was-was. Setiap malam, terutama jika turun hujan mereka mengaku tak bisa tidur nyenyak. Sebab pergerakan tanah sewaktu-watu dapat terjadi dan mengakibatkan kelongsoran. ''Gimana bisa tidur, kalau pikiran nggak bisa tenang. Apalagi kalau mendengar suara kretek-kretek,'' ujar Karsin, warga Kp Pucung RT 2 RW 2 yang bagian belakang rumahnya ambrol beberapa waktu lalu. (H6-64) |