| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Menggantungkan Hidup dari Eceng GondokECENG gondok (Eichhornia crassipes) memang sering dituduh sebagai tanaman merugikan. Gulma itu sering menyebabkan saluran menjadi dangkal dan kapasitasnya berkurang. Kalau sudah seperti itu, saluran tak mampu lagi menampung air dan tempat di sekitarnya pun kebanjiran. Namun, Sukris (43) dan Warsito (41) justru mencari eceng gondok muda di berbagai saluran di Kota Semarang. Batang tanaman itu mereka jual lagi pada perajin bunga di pasar bunga Kalisari Jalan Dokter Soetomo. ''Tanaman itu kemudian dirangkai menjadi berbagai bentuk untuk tempat menancapkan bunga,'' ujar Warsito. Saat dijumpai di bawah jembatan tol Muktiharjo, Jumat (3/12), dia menuturkan, pekerjaan itu sudah ditekuninya sejak 1978. Pengemudi becak itu merasa penghasilannya tak cukup untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. Saat itu dia mengetahui, para perajin bunga di Kalisari membutuhkan eceng gondok sebagai bahan baku pembuatan rangkaian bunga. Baginya, hal itu merupakan kesempatan untuk menambah penghasilan. Dia pun mulai mencari eceng gondok di berbagai saluran. Satu per satu saluran yang ditumbuhi tanaman liar itu dimasukinya. Lantaran sering melakukan hal itu, dia mengaku hafal kedalaman beberapa saluran. Saluran di belakang pos polisi depan RS Sultan Agung Jalan Raya Kaligawe cukup dalam. Saat dimasukinya, air saluran bisa hampir sampai ke leher. Kali Tenggang di bawah jembatan tol Muktiharjo juga cukup dalam. Pada saluran-saluran semacam itu, dia terpaksa menggunakan tangga atau rakit. Sementara itu, untuk menggapai eceng gondok dia menggunakan galah yang ujungnya diberi pengait. ''Kali Tenggang di bawah jembatan tol itu bisa menenggelamkan orang,'' ujar dia. Eceng gondok yang dapat dikumpulkannya, kemudian diikat dengan tali dari bambu. Daun-daunnya kemudian dipotong dengan sabit kecil. Dia mengaku tidak suka menggunakan sabit besar karena merepotkan. ''Sabit besar pernah saya gunakan tetapi tangan saya justru kena bacok.'' Setelah terkumpul cukup banyak, tanaman air itu pun kemudian diangkut becak dan dibawa ke Kalisari. Untuk keperluan itu, tempat duduk di kendaraan tradisional itu pun dibongkar. Dia menyebutkan, pekerjaan itu memberikan hasil yang lumayan. Setiap ikat batang eceng gondok dia jual Rp 2.000 dan dalam sehari dia bisa memperoleh penghasilan Rp 50.000. Ular ''Pekerjaan ini tidak ringan lo,'' ungkap dia. Saat berendam di saluran, dia sering bertemu dengan berbagai jenis ular. Dia pun menunjuk contoh saluran yang banyak ularnya, yakni Kali Tenggang dan saluran di selatan Jalan Raya Kaligawe. Jenisnya juga bukan hanya ular air. Tak jarang para pencari eceng gondok harus bertemu ular berbisa seperti kobra. Kadang-kadang hewan melata itu merasa terganggu dan membela diri dengan mematuk. Bila itu sampai terjadi maka pekerjaan tersebut harus dihentikan dan segera berobat. Sukris yang saat itu juga mencari eceng gondok bersama Warsito mengemukakan, para pencari eceng gondok bisa berendam hingga empat jam sehari. Agar tidak terkena flu, sebelumnya mereka harus mengisi perut. (Purwoko Adi Seno-64j) |