| Sabtu, 04 Desember 2004 | SEMARANG |
Penyebab Banjir di Berbagai TempatWarga Minta Kali Tenggang DikerukSEMARANG - Warga meminta agar Pemkot mengeruk seluruh bagian Kali Tenggang. Banyak bagian drainase perkotaan yang mengalami pendangkalan dan penyempitan sehingga sering mengakibatkan banjir di berbagai tempat. Pendangkalan antara lain terlihat di belokan dekat Jalan Tlogo Timun, Tlogosari. Kali Tenggang yang melalui tempat itu terlihat dibelokkan dan dijadikan batas timur Perumnas Tlogosari. Pemandangan serupa terlihat di badan sungai yang melalui depan SD Muhammadiyah 18. Badan sungai yang melalui tempat itu sebenarnya relatif lebar, sekitar tiga meter. Hanya di dalamnya terlihat banyak endapan lumpur dan tanaman liar. Kondisi Kali Tenggang yang relatif parah terlihat di selatan Jalan Muktiharjo. Di tempat itu, hampir semua badan saluran tertutup tanaman liar. Pemandangan serupa juga terlihat pada bagian sungai yang melintasi jalan itu menuju ke arah kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK). Minta Dikeruk Sholikun (44), warga Jalan Syuhada Barat, Kelurahan Tlogosari Kulon menuturkan, buruknya Kali Tenggang sering menjadi penyebab terjadinya banjir di wilayah itu. Genangan setinggi betis biasanya muncul menjelang akhir Desember dan Januari saat hujan lebat turun hampir tiap hari. Dia mengemukakan, aliran yang masuk ke Kali Tenggang berasal dari Pedurungan, Kalicari, dan Pelebon. Pada 1978, saluran itu masih melalui wilayah yang kini menjadi kawasan Perumnas Tlogosari. Tempat itu semula rawa-rawa, sawah, atau kebun, dan masih berfungsi sebagai tempat penampungan air saat Kali Tenggang meluap. Seingat dia, sekitar 1980, Kali Tenggang kemudian dibelokkan agar menjadi pembatas antara perumnas dan warga di perkampungan. Sejak itulah, secara berangsur-angsur Kali Tenggang mengalami pendangkalan dan wilayah sekitarnya mulai kebanjiran. ''Saya berharap, Pemkot mau mengeruk seluruh bagian Kali Tenggang terutama bagian-bagian yang sangat dangkal,'' ungkapnya. Setelah itu, di tepinya dibangun talud dan tanggul. Dengan demikian, air bisa lebih lancar dan wilayah di sekitarnya tidak kebanjiran. Bagian sungai yang kondisinya sudah relatif baik seperti di Jalan Udan Riris Perumnas Tlogosari. Purnadi (52), warga, mengatakan, pada saat hujan lebat aliran air di Kali Tenggang yang lewat depan rumahnya itu cukup kencang. Namun karena kondisi saluran cukup baik, tempat itu tidak pernah kebanjiran. Sementara itu, data DPU Kota Semarang menunjukkan, luas daerah aliran sungai (DAS) Tenggang 16.661,67 hektare. Debit sungai yang dihitung dengan periode ulang lima tahunan adalah 150,3 m3 per detik. Sementara itu, potensi sedimentasi 26.164 m3 per tahun. Dua tahun lalu, luas genangan 1.032,26 hektare termasuk di Jalan Raya Kaligawe. Jalan itu termasuk dalam jaringan jalan nasional yang pengelolaannya berada di Departemen Pekerjaan Umum. Pada 1993-2000, Kali Tenggang masuk dalam penanganan program Semarang Surakarta Urban Development Program (SSUDP). Akan tetapi, normalisasi Kali Tenggang mulai dari Jalan Majapahit hingga ke muara itu gagal karena pemerintah tidak dapat melakukan pembebasan tanah. (G6-64j) |