logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 SEMARANG
Line

Bertahan di Balik Tenda

PADA bekas reruntuk rumah mereka, keluarga Jayus sibuk bekerja memilah barang-barang rongsokan. Selembar terpal berwarna coklat yang dipasang sedemikian rupa menyerupai tenda, melindungi mereka dari gerimis, Jumat (3/12) siang. Mereka duduk, hanya beralas sisa plesteran lantai rumah yang dingin dan lembab.

Sembari bekerja, Jayus, istrinya Marni, anaknya Jito, serta ketiga keponakannya Tembong, Suprih dan Feri berbincang mengenai apa saja, tak terkecuali penggusuran yang dilakukan aparat Satpol PP, Selasa (30/11) lalu.

Peristiwa yang menyebabkan mereka menjadi gelandangan tak berwisma. ''Masih untung, bapak-bapak petugas itu mengizinkan kita membongkar sendiri rumah ini. Jadi papan-papan dan gentengnya nggak pada rusak,'' ujar Jayus.

Meski di sela perbincangan itu acap terdengar celoteh canda dan derai tawa, mereka tetap tak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan putus asa. Hari beranjak sore, keluarga itu bergegas menyingkirkan barang-barang rongsokan yang berserak di bawah tenda. Lantai plester itu lantas mereka sapu dan gelari kasur lipat. ''Apa boleh buat, malam ini kami terpaksa masih tetap tidur di sini,'' katanya.

Terpaksa? Ya, tentu saja. Sebab untuk mencari tempat tinggal yang baru, mereka tak mampu. Uang yang dipunyai Jayus tak cukup untuk mengontrak rumah, apalagi membangun yang baru. Pulang kampung? Satu hal yang juga tidak mungkin, sebab di Desa Kemiri Kecamatan Kunduran Kabupaten Blora, tempat asal Jayus, tak lagi ada keluarga yang sanggup menampung mereka. Satu-satunya pilihan tetap bertahan, meski harus menahan dinginnya angin malam, gigitan nyamuk dan air hujan. ''Kalau malam dinginnya minta ampun. Tapi bagaimana lagi, kami bisanya cuma pasrah,'' ujar Marni.

Apalagi hidup mereka juga bergantung dari jual beli rongsokan di kawasan PKL Banjirkanal Barat. Sehingga keputusan untuk tetap bertahan di tempat itu, secara psikologis semakin mendapatkan pembenaran.

''Sandang-pangan kami, ya di sini ini. Mau usaha lain apa coba? Kami hidup dari rongsokan ini. Kalau kami pindah terus mau makan dari mana?'' kata Jayus.

Ningsih (34), korban penggusuran lainnya juga bertahan di tenda darurat. Berbeda dengan Jayus yang berkumpul dengan keluarganya, perempuan itu tidur setenda bersama beberapa tetangga lain. Barang-barang miliknya, seperti pakaian dan peralatan dapur dia titipkan di rumah tetangga.

''Mas kan bisa lihat sendiri rumah mereka itu sempit sekali, kalau mau nunut di situ juga tidak mungkin. Pernah kepikiran tinggal di kolong jembatan Banjirkanal Barat, tapi takut terkena banjir,'' katanya. (Rukardi-64)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA