logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 INTERNASIONAL
Line

Jalan Kaki 300 Kilometer demi Aborigin

CANBERRA - Bagi Michael Long, lepuh di kakinya merupakan sedikit harga yang harus dibayarnya untuk membawa kembali isu penduduk pribumi ke dalam agenda politik Australia.

Long, seorang Aborigin (penduduk pribumi Australia), berjalan kaki sejauh 300 kilometer secara spontan untuk membangkitkan kepedulian tentang banyaknya warga Aborigin yang mati muda.

Menurut data resmi, harapan hidup rata-rata warga Aborigin adalah 20 tahun lebih pendek ketimbang rata-rata warga kulit putih, yang dulunya pendatang dari Inggris.

Perjalanan kakinya dari suatu wilayah pedalaman Australia ke Canberra, ibu kota Australia, diikuti beberapa pengkikut dan mendapatkan publikasi besar-besaran secara nasional.

Perjalanan jauh yang melelahkan itu berakhir di gedung Parlemen Federal, Jumat kemarin, saat mana dia menemui PM John Howard dan membahas isu yang dia perjuangkan.

Mantan pemain australian football itu dan Howard berdiskusi tentang berbagai isu yang berkaitan dengan Aborigin, antara lain masalah kesehatan, pendidikan, pengangguran, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta kekerasan domestik.

Long kemudian menyatakan optimistis bahwa isu warga pribumi akan ditangani secara serius oleh pemerintah. Sebagai penduduk asli Australia, kaum Aborigin paling tersia-sia hidupnya dibandingkan warga pendatang dari etnis mana pun.

Dapat Dukungan Awam

Long suatu saat pernah menggambarkan Howard sebagai orang yang ''berhati beku'', karena tidak mau menyampaikan permintaan maaf atas ketidakadilan yang dialami kaum Aborigin pada masa lampau.

Tentang pertemuannya dengan PM Australia itu kemarin, dia menyebutnya ''berlangsung secara terbuka dan jujur''.

Katanya, dia semakin yakin perjuangannya membela hak-hak kaum Aborigin bakal berhasil, mengingat orang-orang kulit putih biasa yang ditemuinya di sepanjang perjalanan ke Canberra memberikan dukungan.

''Saya mendapatkan dukungan yang membesarkan hati dari rakyat Australia,'' katanya kepada para wartawan. ''Mereka mungkin selama ini tidak menyadari apa yang terjadi di halaman belakang rumah mereka,'' tambahnya.

Pertemuannya dengan Howard berlangsung, bersamaan dengan meningkatnya ketegangan antara warga Aborigin - yang disebut juga dengan warga kulit hitam dan warga kulit putih (Suara Merdeka, Jumat, 3/12).

Kamis lalu, polisi mendakwa dua pria kulit putih atas perbuatan keji mereka mengikat leher dan menyeret seorang bocah lelaki Aborigin, belum lama ini.

Insiden itu terjadi, ketika sejumlah warga Aborigin menjarah ladang milik warga kulit putih di Negara Bagian Queensland, menyusul kerusuhan enam hari lalu di sebuah pulau terpencil. Kerusuhan tersebut pecah, gara-gara kematian seorang pria Aborigin - yang ditangkap setelah aksi penjarahan - dalam tahanan Kepolisian Queensland.

Dua pria dewasa dan dua bocah lelaki Aborigin mendobrak sebuah rumah milik petani kulit putih dekat Goondiwindi, 280 kilometer barat Brisbane, ibu kota negara bagian tersebut, Selasa lalu.

Menurut polisi, aksi keempat tersangka tersebut dihadapi oleh para petani kulit putih. (rtr-ed-30)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA