logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 04 Desember 2004 EKONOMI
Line

Kenaikan BBM Semakin Cepat Semakin Baik

JAKARTA- Menko Perekonomian Aburizal Bakrie menyatakan, keputusan pemerintah menaikkan harga BBM pada saat panen bertujuan agar kenaikan itu tidak berdampak terhadap inflasi. Selain itu, kenaikan BBM juga dimungkinkan terjadi pada triwulan I 2005.

"Kenapa pada saat panen? Karena kita harapkan tidak berdampak pada gejolak inflasi. Kita belum tahu persisnya kapan, kita cari yang terbaik," kata Ical di Gedung Depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat, (3/12).

Menurut Ical, kenaikan BBM bisa saja dilakukan pada triwulan I 2005. "Ya, kita lihat saja, semakin cepat semakin baik," tegasnya.

Meski demikian, kalaupun kenaikan BBM itu baik untuk negara, termasuk untuk anggaran belum tentu sama baiknya untuk rakyat. Oleh sebab itu, pemerintah akan sangat memperhatikan daya serap dan daya tahan pasar, termasuk daya tahan rakyat.

Sementara itu, dengan diberlakukannya harga BBM yang baru nanti tidak akan ada lagi subsidi, kecuali untuk minyak tanah yang dipakai masyarakat. Saat ini harga jual minyak tanah sebenarnya Rp 2.700/liter, namun dijual Rp 700 setelah disubsidi.

''Minyak tanah hanya ada di Indonesia. Kalau disubsidi lebih memenuhi keadilan,'' kata Dirjen Migas Departemen ESDM, Iin Arifin Takhyan, dalam jumpa pers, kemarin.

Iin mengatakan UU 25/2000 tentang Propenas, mengamanatkan menghapus subsidi BBM secara bertahap, hingga tidak ada sama sekali. Selanjutnya yang diberikan subsidi hanya minyak tanah. Dengan demikian lebih memenuhi rasa keadilan karena yang menerima subsidi masyarakat kurang mampu.

''Karena itu nantinya subsidi tidak akan diberikan dengan model membagi kupon karena bisa disalahgunakan dan membuat orang tidak percaya. Yang kita usulkan adalah memberi bantuan kepada pendidikan, Misalnya membebaskan SPP sampai SLTP.''

Ke Sektor Lain

Dengan pengurangan subsidi BBM, cadangan dana itu bisa dialokasikan ke sektor lain yang lebih bermanfaat. Tahun 2004 subsidi APBN untuk minyak tanah untuk rumah tangga dan usaha kecil sebesar Rp 14,5 triliun. Adanya kenaikan harga minyak mentah dunia menyebabkan subsidi BBM meningkat menjadi Rp 46,8 triliun.

''Itu pun dengan asumsi minyak 32 dolar AS/barel. Subsidi akan menjadi Rp 63 triliun jika diasumsikan harga minyak 35 dolar AS/barel. Dengan kondisi tersebut sebagai dampak negatif diperkirakan APBN 2004 dapat mengalami defisit antara Rp 1,6 triliun hingga Rp 1,9 triliun,'' kata Iin yang juga Ketua Tim Sosialisasi Subsidi BBM 2004.

Direktur Niaga Pertamina, Rachmad Dradjat, menambahkan impor minyak per bulannya untuk stok nasional nlainya 1,5 miliar dolar AS atau 50 juta dolar per hari. ''Tidak ada bank nasional kita yang sanggup menyediakan dana sebanyak itu,'' katanya.

Sementara dari tujuh kilang dalam negeri menghasilkan 1,057 juta barel per hari dan jika diolah menjadi minyak tinggal 75%. Sementara kebutuhan BBM nasional setiap hari 1,1 juta barel. Karena itu sisanya sekitar 400 ribu barel harus diimpor. Sudah saatnya subsidi di luar minyak tanah dihapuskan.

Harga BBM diharapkan sesuai mekanisme pasar, apalagi saat ini harga di Indonesia tergolong termurah di dunia. Di Vietnam, misalnya harga premium per liternya Rp 5.000. Timor Leste Rp 5.000, Saudi Arabia Rp 4.400, India Rp 4.000. ''Malaysia yang masih menerapkan subsidi harga premiumnya Rp 3.600.''

Rencana pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM di saat panen raya tahun depan dipertanyakan oleh Ketua Umum Himpunan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarso Tohir. ''Kenaikan harga BBM pasti akan mempengaruhi sub-sektor tanaman pangan. Harga pestisida, pupuk, dan benih akan ikut naik. Jika pendapatan petani tidak naik, maka kenaikan harga BBM memberatkan petani.'' (dtc,wa-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA