| Rabu, 01 Desember 2004 | PANTURA |
Gema Tahlil Terdengar Tiap MalamTERANG bulan yang menyinari Desa Kebumen, Kecamatan Tersono, Kabupaten Batang mengiringi alunan pembacaan tahlil. Kalimat yang dibacakan untuk mengirimkan doa bagi orang yang sudah meninggal itu menggema di desa tersebut. Itulah gambaran yang terlintas saat memasuki desa di pelosok. Karena itu, tak mengherankan suasana jalan kampung pun senyap. Tak seperti saat purnama tiba, banyak orang berada di luar rumah. Kebumen memang sedang berduka. Rabu (24/11) malam lalu, 17 warga desa penghasil opak terbesar (makanan ringan sejenis kerupuk yang dibuat dari ketela pohon), meninggal. Sementara itu, 11 korban lainnya dirawat di RSI Weleri. Mereka korban kecelakaan maut saat mobil Isuzu Panther pikap B-9707-CR yang dikemudikan Rohmani (22) bin Rohamin melintas di Jalan Raya Timbang ditabrak bus pariwisata PO Gembira Ria K-1435-AC yang dikemudikan Suwasono (46), warga Desa Srobyong, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 21.00. Saat itu pikap baru saja meninggalkan RM Raos Eco setelah mengantar Muhyidi (61) dan anaknya, Cholidin (25), yang akan kembali ke Pekanbaru, Riau, setelah mudik Lebaran. Rombongan pengantar itu masih ada hubungan satu keluarga. ''Kami sebenarnya masih satu simbah. Jadi, pada waktu mengantarkan Cholidin dan saya, famili juga banyak yang ikut,'' tutur Muhyidi. Dia yang oleh warga dikenal sebagai tokoh masyarakat harus merelakan ditinggal putrinya, Ny Munarti (26), serta kedua cucunya Arif Abdul Azis (9) dan Moh Fajar Rizkianto (3). Sementara itu istrinya, Ny Riatun (50), sampai kini masih dirawat di rumah sakit. Dan suami Ny Munarti, Badrun (30), oleh keluarganya ''diungsikan'' karena kondisinya yang lemah. Kamis pagi, suasana duka benar-benar menyelimuti desa yang berpenduduk 3.464 jiwa itu. Iring-iringan mobil yang membawa jenazah tiba di desa itu. Isak tangis warga mengiringi kedatangan jenazah. Selanjutnya satu per satu jenazah disemayamkan beberapa saat di rumah masing-masing. Setelah itu, ke-17 korban yang terdiri atas balita sampai yang sudah berusia lanjut diusung ke lapangan. Di tempat itu, ribuan orang sudah menunggu untuk memberikan penghormatan terakhir. ''Kami warga Desa Madugowongjati ikut berbela sungkawa atas meninggalnya saudara-saudara kami warga Kebumen,'' ungkap Kades Madugowongjati, Edy Zeinnuryanto. Karena banyaknya jenazah yang harus dibawa, tidak semua menggunakan keranda, tempat dari kayu yang lazim untuk membawa jenazah yang akan dikebumikan. Sebagian di antaranya menggunakan bangku (kursi panjang). Yang anak-anak menggunakan keranda yang dibuat dari bambu. Semua dijajarkan dengan posisi bagian kepala di utara. ''Saya yang merencanakan jenazah dibawa ke lapangan untuk dishalatkan bersama-sama sebelum dimakamkan, karena ini musibah besar yang dialami warga,'' ujar Kades Kebumen Handoyo. Shalat jenazah dipimpin KH Ahmad Mudhofir. Pemakamannya di Kuncen, Kemiri, dan Tempel. Suasana haru terasa saat prosesi shalat jenazah. ''Mari bersama-sama kita mendoakan semoga arwah korban tabrakan maut diterima di sisi Allah. Segala dosa-dosanya diampuni dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,'' kata KH Ahmad Mundhofir. Tidak Kuat Pemandangan menyayat terlihat ketika ada seorang wanita salah seorang keluarga korban tidak kuat menghadapi peristiwa tersebut. Dia menangis histeris, kemudian lunglai. Dia terpaksa dipapah oleh kerabatnya untuk pulang ke rumahnya. Setelah itu, satu per satu jenazah diusung ke pemakaman. Meskipun ada satu keluarga, tak ada yang beberapa jenazah dimasukkan ke dalam satu liang. Wajah kedukaan dan kelelahan terlihat dari raut muka warga Kebumen. Tak ada tawa atau canda. Semua larut dalam kedukaaan. Pada malam harinya, kesunyian benar-benar terasa. Tak terdengar suara lagu yang biasa keluar dari salon. Pintu-pintu rumah banyak yang sudah ditutup sejak magrib. Kalaupun ada yang bergerombol, hanyalah keluarga yang baru saja pulang dari shalat magrib di masjid atau musala. Warga akan terlihat bergerombol saat akan kembali menunaikan shalat isya. Setelah itu, warga berduyun-duyun menuju balai desa. ''Kami mengadakan tahlil bersama-sama di balai desa ini selama tujuh hari yang dipimpin KH Ahmad Mundhofir. Selain itu, juga dilaksanakan di tiap-tiap rumah korban,'' ungkap Handoyo, kades yang alumnus STKIP Catur Sakti, Bantul, DIY itu. Alunan tahlil dari berbagai tempat, setiap malam terdengar menggema di Desa Kebumen. Salah satu keluarga yang mengadakan tahlil adalah Samsuri (29). Malam itu, dia didampingi kerabat dan tetangga membacakan doa yang dikirimkan untuk arwah istrinya, Ny Juriyah (22), dan putri tercintanya, Novia Ardiana (4). Dia benar-benar tabah menghadapi kenyataan itu. ''Saya ikhlas walaupun harus berpisah dengan istri dan anak untuk selama-lamanya. Saya menyadari, ini semua karena takdir Allah.'' Malam semakin dingin namun masih banyak kerabat atau handai tolan yang tetap tidak beranjak dari rumah korban. Mereka menemani untuk memberikan dorongan dan semangat. Senin lalu, ke-17 ahli waris korban menerima santunan dari PT Asuransi Jasa Raharja. Santunan diserahkan Direktur Operasional H Hamka Santri Anom SE MM. Korban meninggal mendapat Rp 10 juta, sedangkan luka-luka Rp 5 juta. Sementara itu, uang duka juga datang dari Gubernur, Bupati, serta PMI Kabupaten Batang. Meski sudah lima hari sejak peristiwa memilukan itu terjadi, warga Kebumen masih merasakan kepedihan. Perempatan jalan atau pos kamling yang biasa untuk berkumpul dan bercengkerama tampak sepi. Kedua tempat itu seakan ikut merasakan kedukaan warga. (Arif Suryoto-74j) |