| Senin, 29 Nopember 2004 | RAGAM |
Lebah Memang Pekerja yang RajinLEBAH sejak dulu kala telah dijadikan contoh teladan bagi pekerja yang rajin, perilaku hidup bersama secara rukun dan gotong royong. Selain peternak lebah, juga para ahli biologi dan para pakar bionik meneliti binatang kecil yang cerdas ini, untuk mendapatkan bibit unggul agar panen madu makin banyak. Banyak sifat menarik dan kemampuan teknik alami lebah yang menarik minat para peneliti. Seperti, bagaimana komunikasi di dalam sarang, mengatur suhu sarang agar tetap nyaman, dan mengapa sarang lebah terdiri dari rangkaian panel berbentuk segi enam. Selain itu para peneliti mempertanyakan, apakah benar lebah adalah pekerja yang rajin? Jika melihat bagaimana kawanan lebah terbang bolak-balik, dari sarang hingga ke wilayah bunga bermekaran yang beberapa kilometer dari sarangnya untuk mengumpulkan nektar itu, jawabannya tentu saja ya. Tetapi hasil penelitian menunjukan, ternyata frekuensi penerbangan lebah pencari makan hanya 30 persen dari kerja hariannya. Apa yang dilakukan lebah ini, jika mereka tidak mencari makanan? Apakah mereka bermalas-malasan saja di dalam sarangnya? Penelitian selama beberapa tahun, yang dilakukan Prof. Jurgen Tautz, peneliti perilaku lebah dari Universitas Wurzburg di Jerman, menunjukan hasil yang amat mencengangkan. Penelitian yang dibantu peralatan canggih, seperti sensor panas, mikrochip yang dapat ditempelkan ke tubuh lebah, atau penala getaran, menunjukan lebah-lebah yang kelihatannya sedang tidur siang itu, sebetulnya bekerja lebih keras ketimbang mencari makanan. Pengatur Suhu Lebah pekerja ini, sebetulnya tidak beristirahat, melainkan sedang bertugas menjadi mesin pengatur temperatur di dalam sarang. Sejak lama, para peternak lebah mengetahui, di dalam sarang lebah, suhu udara tetap konstan rata-rata 35 derajat Celsius, baik di musim dingin maupun di musim panas. Rahasia temperatur yang konstan itu, ternyata ada pada lebah-lebah itu sendiri. Lebah yang tidak bekerja mencari makan, bertugas di dalam sarang, menggerakan tubuhnya seolah terbang, sehingga terbentuk panas. Panas tubuh inilah yang berfungsi sebagai regulator temperatur di dalam sarang. Kerja menjadi pengatur suhu, ternyata lebih berat dari tugas mencari makan. Penelitian Prof.Tautz menunjukan, rata-rata setiap 20 menit sekali, dilakukan pergantian tugas mengatur suhu sarang. Lebah yang kelelahan, diganti oleh lebah yang masih segar. Begitu seterusnya. Juga terdapat hal menarik dari temperatur sarang lebah ini. Pengukuran secara teliti menunjukan, ada bagian-bagian sarang yang suhunya jauh lebih tinggi dibanding suhu rata-rata. Di sebagian lokasi, bahkan dapat mencapai suhu sampai 43 derajat Celsius. Bagi manusia, suhu tubuh setinggi itu, sudah berarti kematian. Rupanya, lokasi-lokasi yang suhunya lebih tinggi itu adalah mesin penetas telur. Di lokasi ini, lebah-lebah pengatur suhu, bekerja lebih berat lagi, karena harus menciptakan panas lebih tinggi. Tugas memanaskan sarang, sama beratnya dengan mendinginkan sarang. Jika musim panas dan suhu sarang terlalu tinggi, lebah pengatur suhu berubah menjadi semacam mesin pendingin. Bagi lebah, mempertahankan suhu yang nyaman bagi koloninya, merupakan tugas sehari-hari. Panel Sarana Komunikasi Para arsitek dapat menarik pelajaran dari bentuk sarang lebah, yang terdiri dari panel-panel berbentuk segi enam. Panelnya terdiri dari dinding yang tipis, tapi di setiap sudut pertemuan dinding, dibentuk semacam lapisan penguat. Sebelumnya, tidak ada insinyur bangunan yang dapat menerangkan, mengapa lebah dapat membuat struktur bangunan yang sedemikian ideal. Ternyata bentuk panel segi enam itu, selain sangat stabil, juga berfungsi sebagai pengatur temperatur dan komunikasi di dalam sarang. Panel-panel segi enam, lebih mudah didinginkan atau dipanaskan oleh masing-masing lebah. Bentuk segi enam menjadi amat ideal sebagai mesin penetas, atau juga sebagai gudang penimbun makanan. Madu yang disimpan di panel segi enam itu, dapat diatur suhunya dan disimpan sesuai kebutuhan. Bahkan panel-panel segi enam yang tersusun rapi itu, berfungsi sebagai jaringan komunikasi antar lebah. Prof. Tautz secara berkelakar menyebutnya sebagai jaringan komunikasi sarang lebah. Komunikasi dilakukan dengan getaran, yang secara efektif diteruskan dari satu panel ke panel lainnya. Di dalam sarang lebah, lebah berkomunikasi dengan getaran, bukannya dengan komunikasi visual. 270 Getaran/Menit Para peneliti biologi di Prancis meneliti getaran lebah dengan kamera berkecepatan tinggi dan peralatan penala getaran yang disebut laser Dopler-Vibrometer. Hasilnya, ternyata efek getaran merupakan cara berkomunikasi antarlebah. Jika lebah pekerja ''menari'' di depan pintu masuk sarang, dibangkitkan getaran dengan frekuensi 270 getaran per menit. Kamera merekam gerakan lebah di dalam sarang. Mereka ternyata relatif tidak bisa bergerak bebas. Namun bisa merasakan getaran yang diteruskan oleh panel-panel sarang berbentuk segi enam. Inilah satu lagi keunggulan sarang lebah. Karena itulah, mengapa Tautz menjulukinya sebagi jaringan komunikasi sarang lebah. Lebah lain yang tertarik getaran, akan bergerak ke pintu sarang dan melakukan kontak dengan lebah penari. Namun penelitian gencar selama ini, belum mampu memecahkan semua rahasia lebah. Misalnya saja bagaimana rahasia kemampuan terbang lebah?. Sebab ditinjau dari ilmu aerodinamika, sebetulnya lebah tidak mungkin bisa terbang. Atau juga bagaimana lebah dapat mengatur umurnya? Sebab di musim panas umur seekor lebah maksimal enam minggu, namun di musim dingin bisa mencapai 10 bulan. Melihat kecerdasan kelompok lebah, sejumlah ahli bionik juga mendapat ide, mengembangkan robot seperti lebah ''apisoid'', untuk tugas di luar angkasa. Sekali lagi terbukti, manusia harus tetap banyak belajar dari alam, misalnya dari koloni lebah.(Tiksna/dwelle.de-35) |