logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Nopember 2004 PANTURA
Line

Fenomena Harga Tanah Bumiayu

Dari Rp 50.000 hingga Rp 1 Juta/M2

AWAN gelap memayungi langit sore di kota Bumiayu. Di perempatan Langkap Jalan Alternatif Bumiayu beberapa tukang ojek bergegas menyendal selah motornya.

Asap tebal bercampur raungan keluar dari knalpot. Sejurus kemudian mereka sudah menyambut para penumpang yang muncul dari pintu antarkota antarprovinsi (AKAP)

"Langkap-langkap Ayuh gelisan Mbak, mengko kesusu udan (ayo cepat, nanti keburu hujan)," ujar salah seorang pengojek. Rekannya yang membuntuti di belakang tidak kalah gesit. Dengan lantang dia menawarkan tumpangan ke arah kota dan Pasar Induk Bumiayu. Tak lama kemudian para penumpang pun berloncatan naik ke atas jok motor. Tanpa menunggu aba-aba, para pengojek itu menarik pedal gas kendaraannya.

Pemandangan kesibukan di perempatan Langkap Jalan Alternatif Bumiayu belakangan ini memang jamak terjadi. Tidak hanya siang, pada waktu tertentu seperti Lebaran dan liburan perempatan yang menghubungkan Ibu Kota Kecamatan Sirampog dengan Bumiayu itu juga ramai hingga dini hari.

Tidak mengherankan, sejak beroperasinya jalan alternatif Bumiayu, titik transit penumpang dari berbagai wilayah sekitar Bumiayu yang semula di depan pasar induk Bumiayu kini berpindah ke perempatan Langkap.

Seperti dituturkan Tohirin (49), warga Desa Benda, Kecamatan Sirampog. Sejak sebulan ini karyawan perusahaan mebel di Purwokerto itu mencegat bus di perempatan Langkap.

"Di sini (perempatan Langkap lebih dekat dibanding ke terminal," ujarnya.

Pendapat senada juga dikemukakan Hadi Purwanto (23), warga Jl Majapahit Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu. Jika sebelumnya dia menumpang bus dari pasar induk, kini dia kini harus menuju perempatan Langkap untuk berangkat ke Tegal.

Berpindahnya pusat aktivitas dari pasar induk ke perempatan Langkap praktis memboyong beberapa kegiatan usaha ke lokasi tersebut. Misalanya di sepanjang ruas jalan ke Kota Bumiayu.

Deretan warung bermunculan di tepi jalan. Tidak hanya itu, sebidang lahan kosong yang sebelumnya tidak terpakai kini digunakan untuk ngetem sejumlah bus dari Jakarta.

Hukum Dagang

Salah satu dampak fenomena perpindahan pusat aktivitas tersebut adalah kemelonjakan harga tanah. Hal itu memang menjadi hukum dagang.

Lokasi perempatan Langkap yang dulu hanya berupa hamparan sawah yang terbelah jalan pedukuhan, kini berubah salah satu tempat paling strategis di wilayah Bumiayu.

Kemelonjakan harga tanah di sepanjang jalan alternatif, khususnya sekitar perempatan Langkap dapat terlihat dari standar harga tanah di lokasi itu.

Misalnya, harga tanah saat pembebasan tanah untuk lokasi jalan alternatif masih berkisar antara Rp 18.000 dan harga tanah darat (tanah kampung) sekitar Rp 50.000.

Namun, seiring kemunculan aktivitas baru di lokasi tersebut harga tanah pun melonjak tajam. Tanah sawah kini berharga mencapai Rp 100.000 sedangkan harga tanah darat bisa meningkat hingga empat kali lipat.

Hal itu diakui Lurah Desa Adisana, Mubari. Salah seorang pemilik tanah sudah ada yang melepas sebidang tanah seluas setengah hektare dengan harga setengah miliar rupiah. Harga itu bisa melonjak berlipat jika pembangunan terminal Bumiayu berlokasi di perempatan Langkap terealisir.

Keterangan Mubari diakui Lurah Desa Kalierang, Cicih Sugiarti. Menurut informasi, harga tanah di desanya yang berbatasan dengan jalan alternatif, sudah mencapai satu juta rupiah per meter persegi.(Suwandono-42i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA