| Senin, 29 Nopember 2004 | PANTURA |
Membuat Kunci Brankas Harus Ada BAPPROFESI tukang membuat kunci duplikat kelihatannya sepele, tapi dia harus mempunyai prinsip tegas terhadap profesinya. Sebab, bisa-bisa kalau tidak hati-hati bisa berurusan dengan aparat kepolisian. Sikap kehati-hatian itu dilakukan Saeful Anwar dan adik iparnya, Subekhan, yang mangkal di Jl AR Hakim No 77 Kota Tegal. Supaya pekerjaan sebagai tukang kunci bisa langgeng dan banyak langganan, dan tidak selalu berurusan dengan polisi, dia selalu menjaga kualitas setiap pesanan jasa pembuatan kunci duplikat. Caranya dengan meminta pemakai jasa untuk tidak meninggalkan dirinya saat dia sedang mengerjakan membuat kunci. Maksudnya, agar orang yang memesan membuatkan kunci tahu kalau dia hanya membuat satu kunci itu. ''Jadi kalau ada polisi menuduh dia membuat kunci duplikat lebih dari satu (di luar pesanan) saya bisa mengelak,'' papar Saeful Anwar ketika berkunjung ke Kantor Perwakilan Suara Merdeka Tegal Jl Cendrawasih No 9. Dalam urusan membuat kunci duplikat, dia mengaku hanya membutuhkan waktu tak ada lima menit, asal ada contohnya. Proses pembuatan menggunakan mesin, dan alat pengukur dan kikir. Alat tersebut sama juga yang dipergunakan tukang kunci yang berada di mal. Soal biaya dari jasa pembuatan kunci, berusaha ditekan semurah mungkin. Ini dilakukan agar pelanggan bertambah. ''Kita tak mau menghadapi orang kepanikan karena kunci tertinggal di dalam mobil, lalu memasang tarif tinggi,'' katanya. Kunci Eropa Canggih Lelaki bertubuh tinggi besar itu memuji produk kunci mobil eropa yang cenderung lebih canggih dan tidak menyulitkan pemilik kendaraan. Beberapa mobil keluaran Jepang, jangan terlalu sering menutup pintu mobil dengan menekan pelatuk. Yang baik menutup dengan mengunci sekalian. Profesi tukang kunci memang dituntut keteguhan dan harus mampu melihat gelagat. Jangan sampai melakukan pekerjaan membuka kunci, tidak tahu gelagat sebenarnya, nanti bisa dituduh maling. Bahkan, untuk membuat kunci brankas ada prosedur yang harus dilakukan, yakni dengan membuat berita acara. ''Jadi kita kalau disuruh seseorang membuka brankas, harus ada berita acaranya lebih dulu, baru kita mau melakukan.'' Keluarga Saeful termasuk tekun dalam menjalani profesi ini. Dia menuruni keahlian dari sang mertua, Mustofa, yang sudah puluhan tahun menekuni usaha ini. Setelah mertua usia lanjut, dia menuruni bersama anak Mustofa bernama Subekhan. Keduanya kerja sama mengurus kios kecil di samping swalayan Marina Tegal, Jl AR Hakim. Karena sudah terkenal banyak langganan yang datang termasuk dari kalangan petugas kepolisian yang meminta bantuan jasanya. (Wahidin Soedja-42) |