| Senin, 29 Nopember 2004 | PANTURA |
Deddy Corbuzier Hibur Masyarakat Kota BatikSUASANA di ruang pertemuan salah satu pasar swalayan di Kota Batik yang sebelumnya ramai, berubah menjadi mencekam. Betapa tidak, ketika pengunjung sedang menunggu acara selanjutnya, tiba-tiba ruangan itu menjadi gelap-gulita. Yang terlihat hanya kilauan sinar biru, yang muncul tidak beraturan. Hal itu membuat orang di ruangan tersebut menjadi diam, dan menunggu kejadian selanjutnya. Perlahan, terlihat sinar agak terang, namun tetap tidak mengurangi suasana mencekam. Di saat mereka sedang memikirkan kejadian berikutnya, tiba-tiba dari balik panggung muncul sosok tubuh tinggi besar dengan menggunakan pakaian serbahitam, rambut panjang, dan di sekitar kelopak matanya dipenuhi warna hitam. Pengunjung hanya terdiam. Namun, mereka tidak merasa takut, karena orang tersebut memang sedang dinantikan. Siapa orang tersebut, sehingga para pengunjung menantikan kehadirannya? Ya, setelah lampu di ruangan itu dinyalakan, terlihat, ternyata orang tersebut adalah Deddy Corbuzier, mentalis terkenal di Indonesia. ''Sepertinya tidak adil, kalau hanya Anda yang bisa melihat saya, sedangkan saya tidak dapat melihat Anda,'' demikian kalimat pertama yang dilontarkan Deddy. Mendengar ucapan tersebut, spontan lampu di ruangan itu menyala terang. Selanjutnya, dia memanggil salah satu pengunjung untuk menemaninya bermain telepati. Setiap kali melakukan aktivitas, Deddy selalu melihatkan penonton untuk bermain dengannya. Telepati Kali pertama pertunjukan adalah bermain telepati. Deddy memerintahkan Iwan, nama pengunjung itu, untuk menghitung beberapa angka yang disebutkan, dan jawabannya telah ditulis di kertas. Begitu Deddy memberikan pertanyaan, jawaban yang disampaikan Iwan sesuai dengan apa yang tertulis di kertas tersebut. ''Jawaban Anda cocok dengan tulisan di kertas ini, padahal kita tidak pernah bersepakat untuk menuliskan angka ini,'' ujar Deddy sambil memperlihatkan angka yang tertulis di kertas itu. Permainan lain, dia meminta seorang wanita bernama Kalina menyebutkan barang yang dikeluarkan oleh pengunjung. Sebelum permainan dimulai, terlebih dulu mata Kalina ditutup dengan kain dan posisi tubuhnya membelakangi pengunjung. Selanjutnya, wanita itu ditelepati oleh Deddy agar dapat menebak benda apa saja yang dipegangnya. ''Kalina, saya telah membuka dompet milik pengunjung dan memegang sebuah barang, apa benda yang saya pegang ini,'' kata Deddy meminta Kalina menebak benda tersebut. Tanpa berpikir lama, wanita itu menjawab kalau benda yang dibawa Deddy adalah sebuah katu kredit, dan juga dapat menyebutkan empat angka terakhir yang terdapat di nomor kartu itu. Mendengar jawaban tersebut, pengunjung yang hadir di tempat itu spontan bertepuk tangan. Sebab, tanpa melihat wanita itu dapat menebak benda tersebut. Yang membuat pengunjung lebih keheranan adalah ketika wanita itu disuruh menyebutkan nama alamat pengunjung yang mengeluarkan KTP. Dengan lantang Kalina mengatakan bahwa alamat di KTP tersebut di Jalan kartini 7, Batang. Ya, telepati yang ditampilkan pemegang penghargaan mentalis Asia tersebut malam itu sangat menghibur masyarakat Kota Batik. Memang, jika melihat penampilan Deddy malam itu, semua orang pasti mengungkapkan rasa kekagumannya. Seperti yang dikatakan Aditya, warga Jalan Kurinci, Kecamatan Pekalongan Barat. Meski hanya melihat dari layar lebar yang dipasang di luar ruangan tersebut, dia merasa kagum dan memberikan rasa simpatik. ''Bagaimana mungkin orang yang ditutup matanya bisa menebak, bahkan dapat menyebutkan sesuatu tanpa melihat,'' kata dia keheranan. (Moch Achid Nugroho-90a) |