logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Nopember 2004 PANTURA
Line

Mengaku Pegawai Kesehatan Jual Obat Penyemprot Nyamuk

PEKALONGAN- Munculnya penyakit demam berdarah (DB) sering dimanfaatkan oleh orang yang mengaku dari Dinas Kesehatan untuk menjual obat penyemprot atau abate kepada masyarakat. Sekali menyemprot, warga ditarik uang Rp 40.000-Rp 60.000.

"Penjual obat itu berpakaian putih-putih layaknya pegawai kesehatan. Ketika menawarkan, mereka sudah membawa alat penyemprot dua buah. Namun ketika saya cek ke Dinas Kesehatan, ternyata mereka bukan pegawai Dinas Kesehatan. Hanya dalam waktu beberapa saat, mereka langsung meninggalkan tempat," kata anggota Komisi D DPRD Kota Pekalongan, Drs Suprayitno.

Hal itu disampaikannya dalam rapat Komisi D DPRD di ruang sidang, Sabtu lalu. Rapat yang dipimpin Ketua Komisi D Kasirun Imam Nuryanto tersebut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan dr Dwi Heri Wibawa MKes dan beberapa instansi terkait. Suprayitno menyampaikan hal itu mengingat dirinya menjabat Kepala SMK Gatra Praja di Jalan Perintis Kemerdekaan hingga sekarang.

Terhadap kenyataan itu, Heri menegaskan, berkaitan dengan DB memang sudah sering terdengar adanya oknum yang mengaku pegawai Dinkes dengan pakaian layaknya pegawai kesehatan. Namun, setelah dicek tidak ada pegawai di instansinya yang berani menjual obat penyemprot kepada masyarakat.

"Kalaupun ada pegawai Dinkes menyemprot ke rumah-rumah penduduk, warga jangan mau membayar jika diminta membeli. Sebab obat itu gratis," kata Heri. Termasuk abate, kata dia, pencegah berkembangnya nyamuk yang ditaburkan di bak air tersebut juga tidak dipungut biaya. Bahkan, untuk abate bisa diambil di puskesmas-puskesmas induk. Selain itu, pihaknya juga akan mengirimkan abate ke beberapa kantor kelurahan dengan dibungkus plastik.

Waspada

Karena itu, kata dia, masyarakat harus waspada dan jangan sampai percaya kalau ada pegawai Dinas Kesehatan menjual obat dari rumah ke rumah atau dari sekolah ke sekolah. Sebab, selain di SMK Gatra Praja, oknum penjual obat penyemprot itu juga pernah mendatangi ke SMK 3 Pekalongan. Namun, setelah dicek ke dinas ternyata mereka bukan pegawai Dinas Kesehatan. Bahkan setelah dilaporkan ke Dinas Kesehatan, yang bersangkutan kemudian melarikan diri.

Menurut Heri, berkaitan dengan DB, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menerjunkan petugas Jumantik untuk memeriksa jentik-jentik di beberapa bak mandi penduduk di daerah endemis.

Di Krapyak Kidul, tuturnya, dari 20 rumah yang dicek, ditemukan tujuh rumah yang bak mandinya terdapat jentik. "Itu artinya 33% rumah terdapat jentik. Karena itu, masyarakat harus segera menyadari akan pengurasan bak mandi seminggu sekali agar nyamuk penyebab DB tidak berkembang."

Mengapa seminggu, menurut Heri, karena siklus perkembangan nyamuk Aides aegipty 10 hari. "Jadi, sebelum berkembang menjadi nyamuk, sudah dikuras dulu agar siklusnya terputus," katanya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk dengan memberikan edaran ke masyarakat. Yakni agar mereka mau mengubur kaleng-kaleng menjelang musim hujan, tidak menampung air hujan yang dapat digunakan perkembangan nyamuk Aides aegipty, dan melakukan gerakan PSN lainnya. (A15-74s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA