logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Nopember 2004 PANTURA
Line

Talud Terowongan Kereta Api Dikhawatirkan Ambrol

MESKI sudah berdiri sekitar tiga tahun, keberadaan bangunan terowongan kereta api (underpass) di Kelurahan Kalinyamat Kulon (Kalkul), Kecamatan Margadana, Kota Tegal terus mengundang kontroversi. Berita terbaru, petugas penyedot air yang menggenangi legokan jalan di bawah terowongan di Jl Ki Hajar Dewantara, Suryadi (55), mengancam mengundurkan diri karena honor kadang diterima tak lancar.

Selain itu jumlahnya juga dirasa tak memadai dibandingkan dengan tugasnya (SM 26/11).

Underpass dibangun sekitar 2001 oleh PT Hutama Tokyo Datam Joint Operation (HTD JO). Fasilitas itu dibangun bersamaan dengan pembangunan rel ganda KA (double track).

Rel tersebut melewati atas terowongan. Karena di bawah terowongan legok, kalau turun hujan lokasi itu digenangi air. Jika kondisi itu terjadi, akan mengganggu kelancaran lalu lintas.

Akibatnya pedagang, pembeli, anak sekolah serta warga lain terganggu.

Ironisnya, daerah bawah terowongan tidak hanya digenangi air di saat penghujan. Di saat kemarau pun, terkadang terowongan banjir. Itu karena talud saluran bocor, sehingga air merembes. Air juga keluar akibat sambungan gorong-gorong tidak rapat. "Saya khawatir, kalau urugan terus terkikis, bangunan talud akan ambrol," ujar Kepala DPU Ir M Wahyudi melalui Ka Subdin Perencanaan Ir Gito Musriyono.

Tokoh Kelurahan Asmawi Aziz dan Kepala Lurah Kalinyamat Kulon Hepiyanto BA juga mengkhawatirkan hal tersebut.

"Terus terang kami sering melaporkan hal itu ke DPU, namun belum mendapat tanggapan. Kami melapor karena warga mengeluhkan banjir yang kerap kali menggenangi terowongan. Padahal musim penghujan segera tiba," ujar Asmawi, yang juga Wakil Ketua DPD PAN Kota Tegal. Dia tak bisa membayangkan betapa sulitnya warga kalau talud ambrol. Air akan masuk ke bawah terowongan seperti bah yang sulit untuk disedot.

Menurut Asmawi, banjir di bawah terowongan mengganggu kelancaran lalu lintas karena cukup tinggi. Mobil dan sepeda motor tak bisa lewat karena terendam air.

Seandainya harus memutar melalui jalan ke Kelurahan Kalinyamat Wetan, misalnya menuju ke Pasar Sumurpanggang, maka akan bertambah jauh hampir lima kilometer. "Kalau musim penghujan datang, saya bisa bekerja hampir penuh 24 jam. Saya capai karena harus menyedot air sekali dalam 30 menit," ujar Suryadi. Ketua RT 6 RW 3 itu bersedia menyedot air karena lebih merasa terpanggil demi terpenuhinya hajat hidup warga.

Gito Musriyono pun mengakui sering mendapat keluhan dari aparat kelurahan dan Asmawi. Namun pihaknya telah meneruskan keluhan itu ke PT Kereta Api Indonesia Daop III Cirebon. Hal itu karena wilayah tersebut masuk dalam wilayah kerja Daop III Cirebon.

Kalaupun surat DPU belum ditindaklanjuti, Gito memperkirakan karena proyek underpass yang konon dibiayai oleh Pemerintah Jepang itu telah selesai.

"Ya, akibatnya DPU seperti terkena getah atas proyek tersebut. Padahal kami hanya mampu memberi honor kepada Suryadi dan membeli bahan bakar untuk pengoperasian tiga buah pompa air yang disediakan oleh PT KAI. Itu pun kami kadang kesulitan karena tidak ada anggaran resmi," ujarnya.

Hepiyanto mengakui, Suryadi memang sempat mogok kerja. Karena itu, dia khawatir kalau Suryadi benar-benar mundur sebagai penyedot air. Sebab sebelumnya salah seorang petugas penyedot juga sudah mundur.

Padahal tidak mudah untuk mencari orang yang mau bekerja ekstra. Namun karena ada isyarat dari DPU agar pihaknya mengajukan anggaran lewat APBD untuk honor Suryadi, Hepiyanto akan memenuhi saran dari DPU itu.(Nuryanto Aji-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA