| Senin, 29 Nopember 2004 | OLAHRAGA |
Pengurus PSSI Makin Sulit DipertahankanJAKARTA-Salah satu faktor kelemahan dari kepengurusan PSSI periode 2003-2007 adalah kurang adanya sensitivitas untuk menyelesaikan segera berbagai permasalahan sepak bola nasional secara tuntas. Jajaran pengurus harian terkesan membiarkan berbagai persoalan menjadi berlarut-larut, sehingga akhirnya tak jarang menjadi semacam ''bom waktu''. Menurut pernyataan Ketua Komisi Disiplin PSSI Togar Manahan Nero Simanjuntak, kondisi kepengurusan PSSI sekarang memang sudah semakin sulit untuk dipertahankan. Kalau Kongres Luar Biasa (KLB) atau Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada akhirnya tak bisa diredan lagi, itulah memang jalan terbaik yang harus ditempub pengurus harian. ''Bila pada akhirnya KLB atau Munaslub sudah menjadi pilihan terbaik bagi kita semua, ya, mungkin itulah satu-satunya jalan yang harus kita tempuh. Pengurus juga bersikap fair dengan mendengarkan aspirasi dari komunitas sepak bola nasional,'' lanjutnya. Menurut pengamatannya, jajaran pengurus harian sekarang kurang dibekali atau membekali diri dengan sensitivitas. Karena itu, banyak persoalan yang seharusnya bisa diselesaikan secara cepat, menjadi berlarur-larut dan bahkan bisa menjadi "bom waktu'' bagi PSSI. Substansi Togar mencontohkan penyelesaian kasus pemain bermasalah asal PSS Sleman sewaktu memperkuat Persiba Bantul di kompetisi Divisi II tahun ini. ''Seharusnya PSSI bisa dengan cepat memutuskan kasus pemain narkoba itu, sehingga persoalannya tidak akan menjadi sepelik sekarang,'' kata Togar, yang ketika dihubungi tengah berada di Makassar. Kasus dua peman Persiba itu memang masih belum bisa diselesaikan hingga sekarang. PSSI memang sudah menghukum secara diam-diam dua pemain yang terlibat dalam pemakaian sabu-sabu itu, yakni Dedy Setiawan dan Dwi Prasetyo. Namun, PSSI belum menyelesaikan substansi persoalannya, yakni gugatan Persitara atas sah tidaknya pemakaian dua pemain itu oleh Persiba. Jika dua pemain itu diputus bersalah, maka Persiba seyogyanya harus juga diputus bersalah. Dalam konteks sensitivitas kepengurusan itu, Togar Manahan Nero mengusulkan adanya mantan-mantan pemain nasional yang didudukkan dalam jajaran pengurus harian PSSI mendatang. ''Kalau hal itu perlu dibicarakan dalam KLB atau Munaslub, mengapa tidak? Kita semua tahu, mantan-mantan pemain nasional itu sangat faham dan mengerti semua permasalahan menyangkut sepak bola. Saya yakin tidak akan ada berbagai kasus di sepak bola kalau kita bisa mendudukkan mantan-mantan pemain nasional itu dalam kepengurusan harian,'' katanya. Nama-nama mantan pemain nasional seperti Ronny Pattinasarany, Iswadi Idris, Ferryl Raymond Hattu, Abdi Tunggal, Aji Santoso, Junaidi Abdillah, Anjas Asmara disebut Togar sebagai figur yang pantas ditempatkan dalam pengurus harian. ''Ronny Patti memang pernah jadi pengurus, tetapi hanya ditempatkan di bidang 'ecek-ecek'. Demikian juga dengan Iswadi Idris sekarang. Apa sih tugas dia yang menentukan? Mereka pantas untuk ditaruh di tempat yang lebih terhormat,'' tegas Togar.(wgm-22) |