| Senin, 29 Nopember 2004 | WACANA |
Surat PembacaSeragam Sekolah Hapus, Saya TerimbasSebagai pengusaha konfeksi khususnya pakaian seragam sekolah, saya merasa terpukul bila rencana penghapusan pakaian seragam sekolah benar-benar diberlakukan. Saya memproduksi pakaian seragam sekolah sejak 20 tahun lalu dan sekarang mempekerjakan 20 orang. Mereka terdiri penjahit yang menghidupi tidak kurang 80 anggota keluarga sehingga nantinya praktis akan mengalami kesulitan mengais rezeki bila ketentuan pakaian seragam sekolah benar-benar dihapus. Pengusaha sejenis di Wonosobo terbilang banyak sehingga tak terhitung berapa banyak yang harus menganggur. Menurut saya dengan ketentuan tersebut, Pemerintah membuka luas lapangan kerja dan kesempatan kerja bagi warganya. Bimbingan dan bantuan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang dilakukan selama ini menjadi sia-sia, karena kami tidak lagi mempunyai lahan untuk usaha. Menurut saya kebijakan tersebut dampaknya sangat luas di antanya produksi bahan pakaian, usaha konfeksi berikut tenaga kerja penjahit, pengrajin topi, dasi, tukang sablon, tukang bordir dan semua fasilitas yang berkaitan dengan produksi (transportasi, alat bantu seperti benang, resliting, kancing baju). Belum lagi, bagi pelaku ekonomi di bidang pakaian seragam (pengusaha industri kecil dan koperasi sekolah) yang masih punya stock barang. Sedang bagi orang tua yang kurang mampu dan memiliki anak lebih dari 1, biasanya pakaian seragam si kakak bisa dilungsur kepada adiknya. Kalau para siswa tak lagi berpakaian seragam, maka saya yakin mereka saat berangkat akan berpenampilan seperti akan menghadiri pesta atau bahkan seperti akan pesiar. Hal ini akan lebih mempertajam kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin sehingga akan memengaruhi jiwa anak. Di samping itu para guru akan merasa kesulitan mengawasi dan menanamkan kedisiplinan serta nilai-nilai budi pekerti. Kalau ada indikasi tidak baik dalam pengadaan pakaian seragam (KKN), bukan pakaian seragamnya yang dihapus, tetapi sistem pengadaannya yang harus dibenahi. H Chairul Mustofa Blok D/12 Lantai I Wonosobo Plaza *** Kehilangan Pulsa IM 3 dan Mentari IM 3 dan Mentari sering terganggu, belum lagi kalau menghubungi call center susah sekali dan jawabannya terkesan acuh terhadap pelanggan. Tapi semua ''penderitaan'' itu belum berakhir pada tanggal 15 November 2004 sekitar pukul 17.00 WIB saya mengisi secara elektrik pulsa HP saya 0856 2760 xxx dan 081 553 180 xxx. Masing-masing saya isi senilai Rp 10.000. Tetapi tiba-tiba sekitar pukul 20.30 WIB pulsa saya berkurang menjadi kurang lebih Rp 3.200. Padahal saya hanya sms tidak sampai 12 kali. Tanggal 16 November 2004 pukul 16.00 WIB saya mengisi pulsa kembali 0856 2760 xxx senilai Rp 10.000. Tetapi tiba-tiba sekitar pukul 19.30 WIB lagi-lagi pulsa berkurang menjadi Rp 3420. Ke mana hilangnya pulsa saya? Apa mungkin tempat pengisian elektrik tidak beres (padahal pulsa sudah masuk) atau jaringannya. Mohon tanggapan Satelindo. Agung Tri Y Jl Anggrek 4 Cepu *** Bangun Citra DPR Saya yakin rakyat pemilih menjadi masgul dan sakit hati, ketika tahu 500 wakilnya yang terhormat di DPR ternyata "menampilkan" sikap dan perilaku yang tidak profesional. Barangkali 5 tahun ke depan masyarakat merasa tidak perlu memilih daripada memilih wakil yang memalukan. Seharusnya pengalaman DPR masa lalu digunakan sebagai tonggak pelajaran, dengan visi memperjuangkan dan mengimplementasikan aspirasi rakyat. Sekaligus dengan misi membangun Indonesia sebagai negara merdeka, berdaulat, berkeadilan serta menciptakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat. Keterpurukan bangsa dan negara jadi pekerjaan utama yang harus segera dilaksanakan perbaikannya. Eksekutif mulai langsung dipilih rakyat, agar mempunyai legalitas yang lebih kuat, sehingga dapat melaksanakan pekerjaan kepemerintahan sesuai aspirasi rakyat. Mereka menghendaki ada perubahan nyata, baik kinerja pemerintah mau pun peningkatan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat. Nampaknya justru wakil rakyat yang lebih berfungsi mengemban aspirasi rakyat menjadi kebingungan. Sepertinya wakil rakyat belum siap menerima amanah rakyat. Seharusnya "musyawarah" dijadikan sebagai substansi kinerja DPR. Sebanyak 500 orang dengan berbagai latar belakang pendidikan, pengalaman dan tujuan yang sama sesuai visi dan misi, merupakan kekuatan yang sangat potensial untuk membangun negara dan bangsa. Karena itu semua pihak harus berani mulat salira hangrasa wani, bahwa jabatan dan kedudukan merupakan amanah rakyat. Oleh sebab itu kinerja DPR harus merupakan perwujudan dari pengabdian anak bangsa terbaik dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi kesegaran dan membuka mata hati wakil rakyat, sehingga dapat segera mewujudkan kinerja yang baik seperti yang di tunggu-tunggu masyarakat. Bambang E.S Semarang Indah Blok D.X/2 Jl Madukoro Semarang 50144 *** Penjarah di Losmen Suronegara Purworejo Bertemu handai taulan di kampung meski harus menempuh ratusan kilometer dan bersusah-susah dengan kemacetan tidak menghalangi niatan para pemudik termasuk juga keluarga kami. Tiba di kampung halaman kami memesan kamar di Losmen/Hotel ''Suronegara'' Purworejo yang tarifnya 2 x lipat dari harga biasa. It's okey. wong lebaran (Rp 240.000)/kamar minus pelayanan. Kami check in tanggal 16 November pukul 13.00 WIB. Esok harinya sekitar pukul 10.00 kami meninggalkan kamar dan kunci dibawa suami. Kami kembali pukul 22.00 . Saya mengepak dan mengecek ulang semuanya termasuk tas tangan yang selalu saya bawa. Pukul 23.00 WIB saya mengambil dompet, uang masih oke dan kemudian tidur. Pukul 03.00 dini hari anak saya yang tidur di kamar sebelah ingin pindah kamar, tetapi tidak jadi karena pintu terkunci. Pukul 03.30 saya terbangun karena udara sangat dingin tidak seperti biasa. Sekitar pukul 04.30 suami mendengar ada orang membuka pintu dan setelah saya bangun diketahui pintu kamar sudah tidak terkunci. Saya keluar menemui salah satu petugas keamanan dalam keadaan berkeringat dan membawa pisau tajam, tetapi saya tidak curiga. Pukul 06.00 WIB saat saya akan membeli sarapan, melihat dompet sudah berubah posisi dan isinya uang tunai Rp 2 juta hilang dan Rp 500 ribu di luar dompet tetapi masih dalam tas juga hilang termasuk HP. Total kerugian Rp 5 juta. Saya segera lapor kepada pihak hotel tetapi mereka malah tidak terima Akhirnya kami lapor ke Polres setempat yang menanggapi baik dan segera ke TKP. Kepada para tamu losmen/hotel agar selalu waspada terhadap keamanan kamar. Sugeng Suparwoto Bumi Cimanggis Indah C1/4 Depok *** Pundi Peduli Saya mahasiswa El Rahma Education Centre Semarang dengan Program Studi Informatika dan Teknik Komputer, kelahiran Blora dari keluarga tidak mampu. Saya mencari orang yang peduli kasih, baik dari pemerintah, swasta, yayasan, atau pembaca yang rela menjadi dermawan. Mengingat keterbatasan biaya pendidikan, saya benar-benar membutuhkan uluran tangan dari para pembaca agar studi terselesaikan. Saya anak kedua dari dua bersaudara. Orang tua sudah tua dan tidak bisa bekerja lagi, sedang kakak hanya lulusan SD yang bekerja sebagai buruh tani. Dalam kondisi demikian berat bagi saya untuk menyelesaikan kuliah. Padahal semangat mencari pekerjaan sambilan ternyata sulit sekali. Saat SMA saya tinggal di Panti Asuhan Al Falah Jepara tapi kini sudah lepas sehingga semua kebutuhan harus saya tanggung sendiri. Sukari Mhs EI Rahma Education Centre Jl Puspanjolo Brt Raya 1 A Semarang |