| Senin, 29 Nopember 2004 | NASIONAL |
KHOS KHOSCopet Manfaatkan MuktamarDASAR copet, tak peduli di tengah khalayak yang ahli agama seperti di arena Muktamar NU kali ini. Begitu ada kesempatan, pencopet pun tetap beraksi. Memanfaatkan ramainya suasana pembukaan, saat banyak warga nahdliyyin mengerubungi para kiai, atau ketika ada warga NU berdemo, mereka pun menggerayangi saku orang lain. Walhasil, sejumlah dompet, ponsel, dan barang berharga lainnya melayang. Termasuk ponsel milik wartawan Suara Merdeka Joko DH, wartawan TV 7, Indosiar, TVRI dan sejumlah peserta muktamar. ''Ya sudah, anggap saja sedekah,'' kata mereka.(Tim SM-78t). Warung Harga Muktamar PEDAGANG suvenir, pakaian, makanan, benar-benar mrema. Suasana pembukaan muktamar yang begitu ramai membuat dagangan mereka laris manis. Hanya ada yang menjengkelkan, mereka menerapkan harga muktamar alias harga lebih mahal. Serombongan jurnalis yang makan nasi pecel di sebuah warung makan di kompleks muktamar terkena batunya. ''Masak, makan nasi pecel lauk telur goreng, bertiga habis Rp 36.000,'' kata salah seorang jurnalis. Yah, harga muktamar memang lain.(Tim SM-78t). Jadi Tukang Foto BUKAN Gus Mus kalau tidak bisa aneh-aneh. Kiai budayawan itu memang suka seenaknya sendiri. Pada saat penting seperti pembukaan muktamar, usai bersalaman dan berangkulan dengan Presiden SBY, Gus Mus berganti profesi. Dia menjadi tukang foto. Dengan gaya, dia pun jepret sana jepret sini, termasuk Presiden SBY. ''Nggak kalah dibandingkan dengan wartawan kan,'' katanya sambil ketawa.(Tim SM-78t). Lapangan Jadi Terminal LAPANGAN Desa Ngemplak, Donohudan, yang biasa digunakan bermain sepak bola, saat pembukaan berubah menjadi terminal bus. Ratusan bus yang mengangkut peserta muktamar dan penggembira diparkir di tempat itu. Tak urung, beberapa warga pun mengeluh karena lapangan menjadi sedikit rusak. ''Wah, ini terminal tiban, sayangnya malah jadi rusak lapangannya,'' kata salah seorang warga. "Ya sudah, demi muktamar,'' lanjut mereka.(an-78t). Tenda Bazar Roboh HUJAN disertai angin kencang kemarin menyebabkan beberapa tenda bazar roboh. Akibatnya, beberapa pedagang yang tendanya tidak roboh harus ekstrahati-hati. ''Memang yang roboh itu kebetulan belum diisi pedagang, sehingga tidak ada yang menjadi korban. Tapi kami sempat waswas, jangan-jangan tenda kami juga roboh. Mungkin kurang kuat, jadi langsung roboh begitu diterpa angin kencang,'' kata Slamet, salah seorang pedagang konveksi di dekat tenda yang roboh.(Tim SM-78t) Tim Peliput: Agus Fathuddin Yusuf (koordinator), A Adib, Joko Dwi Hastanto, Ainur Rohim, Anie R Rosyidah, dan Yusuf Gunawan. |