| Senin, 29 Nopember 2004 | MURIA |
Perjuangan Mendirikan Rumah Sejarah Blora (1)Berawal dari Rasa Meri terhadap TetanggaPenemuan sejumlah fosil purba di Desa Singget, Kecamatan Menden oleh sejumlah aktivis yang tergabung dalam wadah Yayasan Mahameru Blora, kiranya perlu mendapat penghargaan atas kepedulian sekelompok kaum muda terhadap benda-benda sejarah di Blora. Untuk mengetahui kiprah Yayasan Mahameru berikut latar belakang liku-liku berdirinya serta obsesi ke depan, wartawan Suara Merdeka, Urip Daryanto, menurunkan laporan dua seri mulai hari ini. ''SEMULA berawal dari rasa iri, meri terhadap kabupaten tetangga seperti Rembang, Pati, Grobogan, dan Bojonegoro (Jawa Timur), saya memberanikan diri untuk mendirikan Mahameru,'' ungkap Ketua Yayasan Mahameru Blora Gatot Pranoto BE dalam bincang-bincangnya dengan Suara Merdeka, baru-baru ini. Ya, sekitar dua tahun lalu, sebuah yayasan yang sejak awal komit bergerak dalam bidang pelestarian seni budaya tradisonal termasuk di dalamnya soal penelusuran peninggalan benda-benda sejarah telah berdiri di Blora. Pada awalnya, dengan merekrut beberapa personel muda yang memiliki keinginan untuk pelestarian budaya dan sejarah, obsesi Mahameru masih ambyah-ambyah atau kurang terfokus. ''Ya bagaimana fokus, keberanian untuk mendirikan yayasan hanya dilandasi semangat,'' tutur Gatot. Sebut saja Edi Wuryanto, Margono dan bebeapa personel lain, hanya bermodal tekad kemudian menekuni bidang yang tidak populer ini Begitu berdiri, tidak tanggung-tanggung langsung berbadan hukum. Kali pertama yang dilakukan sejumlah personel Mahameru adalah menelusuri literatur dan studi lapangan dengan obsesi menyusun buku sejarah Blora. Latar belakangnya, selama ini masih terlalu banyak versi penyusunan sehingga buku sejarah Blora ini belum diketahui ending-nya. Dana Orang Blora atau mungkin orang di luar Blora barangkali akan bertanya-tanya, dari mana dukungan dana untuk melaksanakan kerja besar itu. Sementara orang Blora - waktu itu - sudah sangat mafhum akan status sosial orang-orang di Yayasan Mahameru yang sebagian besar sedang-sedang saja. ''Karena keberangkatan kami hanya tekad, ya untuk mendukung kegiatan kami tidak jarang harus urunan. Ada memang partisipasi dan perhatian dari Pemkab Blora, yaitu kucuran dana Rp 5.000.000 untuk setiap tahunnya,'' ungkap Margono.(34j) |