logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Nopember 2004 SEMARANG
Line

Mengurai Banjir Semarang (3-Habis)

Rob yang Belum Juga Teratasi

SALAH satu varian banjir yang hingga kini belum teratasi di Kota Semarang adalah rob, masuknya air laut ke daratan. Berbeda dari banjir yang biasa terjadi pada musim penghujan, rob datang sewaktu-waktu di sepanjang musim. Pada saat pasang, air laut masuk ke daratan melalui berbagai saluran. Akibatnya, berbagai wilayah di dekat pantai tergenang.

Selama ini banyak pihak mengambil jalan pintas mengatasi rob dengan pengurukan. Tentu saja tanah untuk keperluan itu diambil dari perbukitan di selatan ibu kota Jateng ini. Namun, upaya itu tak mengatasi masalah. Hingga kini, rob tetap menjadi bahaya laten yang senantiasa mengintai.

Lebih parah lagi pada musim penghujan. Kondisi sejumlah permukiman warga di kota bawah mendapat tekanan air dari dua arah. Dari bagian atas mendapat kiriman banjir bandang, sementara dari arah bersebalikan air laut ''mengejar'' ke darat.

Menyalahkan pihak atau aktivitas tertentu termasuk reklamasi pantai sebagai penyebab rob sepertinya kurang bijaksana. Bagaimanapun persoalan itu tidak akan pernah selesai jika hanya berkutat untuk mencari siapa yang paling bertanggung jawab.

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, pekan ini akan mempresentasikan hasil kajian tentang reklamasi pantai. Kajian tersebut dilakukan enam pakar yang diketuai ahli rekayasa pantai Dr Ir Suripin MEng.

Beberapa peneliti lain yang terlibat dalam kajian itu adalah ahli transpor sedimen Dr Ir Robert Johanes Kodoatie MEng, ahli teknik pantai dan hidrologi Dr Ir Suharyanto MSc, ahli hidrolik Ir Sri Sangkawati MS, ahli pemetaan Ir Sumbogo Pranoto MS. Sebagai penanggung jawab kajian itu, Ketua Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Undip Ir Bambang Pujianto MT.

Kajian itu menunjukkan, sekitar 500 tahun silam garis pantai Semarang masih berada di sekitar Bukit Simongan membentang ke timur di selatan Simpanglima saat ini, yaitu di Bukit Siranda. Tingginya suplai sedimen dari daerah hulu yang dibawa Sungai Garang dan sungai-sungai kecil lainnya menyebabkan garis pantai Semarang terus bergerak ke utara.

Selain itu disebutkan, pada 1976 juga pernah dikaji oleh dua pakar, yakni Burns dan McDonnel. Keduanya menyimpulkan, pertumbuhan delta di muara Banjir Kanal Barat 10,5 m/tahun.

Itu tidak jauh berbeda dari hasil perkiraan yang mengacu pada peta-peta lama pada 1947-1991.

Dari overlay peta kedua periode itu diperoleh pergeseran pantai Semarang sejauh 1.400 meter. Dengan kata lain, pada 1947-1991 pantai Semarang bertambah 9,7 m/tahun.

Daratan yang terbentuk akibat endapan itu secara geologis masih berusia muda dan mengalami pemadatan. Itulah yang antara lain menjadi penyebab penurunan tanah di Kota Semarang. Jika penurunan itu sampai di bawah permukaan pasang air laut, rob terjadi.

Berdasarkan data, penurunan tanah di kawasan Tugu Muda 1,25 cm/tahun, Pasar Johar 5,20 cm/tahun, Simpanglima 1,60 cm/tahun, pelabuhan 11,00 cm/tahun, Puri Ajasmoro 3,4 cm/tahun, dan di Jalan Arteri 7,70 cm/tahun.

Tak Bisa Parsial

Hasil kajian itu menunjukkan, upaya penyelesaian masalah banjir dan rob di Kota Semarang tidak bisa dilakukan secara parsial. Dr Ir Suripin MEng mengatakan, Pemkot sudah saatnya mengkaji daya dukung lingkungan yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu pedoman perencanaan tata ruang.

Rencana tata ruang itu juga harus dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, jika secara teknis tak memungkinkan, pengembangan suatu kawasan harus dihentikan.

Sebaliknya, jika suatu kawasan memang masih bisa dikembangkan, hendaknya dilakukan dengan penuh perhitungan. Jangan sampai pembangunan di kawasan itu menambah sedimentasi dan membebani drainase.

Soal penurunan tanah, Suripin menyarankan agar Pemkot memperketat pengendalian penggunaan air tanah. Selain itu, usaha untuk menyediakan air bersih tanpa mengambil air tanah harus menjadi prioritas.

Persoalan sampah juga perlu mendapatkan perhatian serius. Salah satu cara yang bisa ditempuh dengan mengampanyekan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Target utama kampanye itu adalah menghilangkan kebiasaan membuang sampah sembarangan termasuk ke dalam saluran.

''Upaya terakhir yang bisa dilakukan adalah menormalisasi semua sungai dan saluran,'' imbuh dia. (Purwoko Adi Seno, Rukardi-64j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA