| Senin, 29 Nopember 2004 | EKONOMI |
Investasi Obligasi PemerintahALTERNATIF sumber pembiayaan bagi suatu perusahaan atau lembaga pada era ekonomi modern adalah dalam bentuk saham atau obligasi. Bagi para investor kedua bentuk pembiayaan itu mempunyai karakteristik berbeda. Perbedaan karakteristik tersebut terkait dengan harapan peluang keuntungan dan risiko yang dihadapi. Pekan lalu di Indonesia ada dua peristiwa menarik, yaitu kondisi Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang masih bertahan baik dan seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Perkembangan bursa diiringi oleh kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) dari 939,9 menjadi 965,2. Berarti kinerja atau keuntungan pasar dalam sepekan mencapai 2,6%. Peristiwa seleksi penerimaan CPNS telah diikuti baik oleh peserta yang belum bekerja maupun yang sebenarnya sudah bekerja di sektor swasta. Menarik sebagai suatu kajian, mengapa ada orang yang sudah bekerja di sektor swasta dengan gaji Rp 2 juta/bulan masih ikut sebagai peserta seleksi itu. Padahal andai diterima gajinya jauh lebih rendah dari yang diterima sebelumnya. Peristiwa tersebut analog atau mempunyai kesamaan dengan alternatif pilihan mengapa seorang investor memilih investasi pada obligasi daripada saham. Dilihat dari kacamata peluang mendapatkan return atau hasil, saham mempunyai peluang mendapatkan keuntungan lebih besar daripada obligasi. Namun dilihat dari kacamata risiko, obligasi mempunyai risiko yang lebih kecil daripada saham. Para ahli manajemen menyatakan motivasi seseorang melakukan suatu perbuatan tidak hanya ingin mendapatkan keuntungan atau gaji tinggi, melainkan ada motivasi lain. Keinginan yang lain, misalnya, kebutuhan memperoleh penghargaan, kekuasaan, keamanan, pengembangan potensi, dan sebagainya. Untuk sementara ini menjadi pegawai negeri sipil (PNS) dirasakan lebih dapat memenuhi kebutuhan atas penghargaan dan kekuasaan. Investasi pada saham dalam waktu satu tahun terakhir secara umum dapat memperoleh peluang keuntungan hingga 70%. Meskipun demikian ada pula investor yang tidak dapat memanfaatkan peluang keuntungan itu. Pada investasi obligasi besar coupon atau bunga tetap yang akan didapatkan tertinggi 20%. Investor yang berpola hati-hati atas risiko dalam berinvestasi atau risk averter menginginkan berinvestasi secara aman dan damai. Aman dalam arti ada jaminan investasinya dapat kembali serta damai dalam arti investasinya memberikan keuntungan cukup layak atau lebih tinggi dari bunga deposito. Jenis obligasi yang dikeluarkan oleh negara atau municiple bonds memiliki bunga tetap tahunan pada kisaran 5%-20%. Jenis obligasi negara pada saat ini ada sekitar 49 dengan bunga tetap tahunan 7% sampai 15%. Jumlah tersebut masih lebih tinggi dari bunga deposito tahunan pada saat ini yang paling tinggi 7,5%. Kelebihan Investasi pada obligasi hampir mirip dengan orang berinvestasi dalam bentuk deposito, dalam arti akan mendapatkan keuntungan berupa bunga yang besarnya sudah ditetapkan sebelumnya. Kelebihan investasi pada obligasi selain keuntungan berupa bunga, ada peluang mendapatkan keuntungan dari perubahan harga beli dan harga pada waktu dijual. Selisih antara harga pada saat beli dan harga saat menjual itulah keuntungan yang sering disebut sebagai capital gain. Dari 49 jenis obligasi negara sebanyak 23 atau 46% mempunyai nilai di atas pari atau nilai nominal semula, dan tertinggi mencapai 123,2. Jika investor membeli obligasi pada saat penawaran perdana berarti selain keuntungan berupa bunga, mendapatkan keuntungan berupa capital gain sebesar 23,2%. Kelebihan obligasi lainnya dibandingkan deposito adalah obligasi merupakan investasi yang lebih fleksibel karena mudah diperjualbelikan. Faktor risiko atau keamanan dalam berinvestasi menjadi pertimbangan utama bagi seorang investor. Di antara berbagai jenis obligasi, obligasi negara sering disebut sebagai risk free instrument. Dikatakan bebas risiko mengingat selama ini pemerintah belum pernah mengemplang dari kewajibannya yang sudah jatuh tempo. Jadi selama ini track record pemerintah dalam hal assurance (jaminan) nama besarnya masih teruji dan terjaga, kecuali pada waktu krisis tahun 1950/60 yang terpaksa ada pemotongan nilai uang dan memengaruhi penurunan nilai obligasi. Pemerintah daerah termasuk Pemerintah Provinsi Jateng saat ini berupaya menjadikan obligasi pemerintah daerah sebagai salah satu alternatif sumber pembiayaan pembangunan. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana upaya yang dapat dilakukan supaya obligasi pemerintah daerah yang sebenarnya mempunyai kelebihan sebagaimana obligasi pemerintah menjadi sesuatu yang menarik dan diminati oleh para investor. Investor selalu dalam mengambil keputusan berinvestasi secara rasional akan menjadikan kinerja obligor atau pihak yang mengeluarkan obligasi sebagai pertimbangan utama, termasuk pada obligor pemerintah daerah. Pemerintah daerah selain mempunyai badan usaha milik daerah, memiliki beberapa program pembangunan yang bersifat cost recovery atau secara finansial menciptakan pendapatan, antara lain jalan tol, air bersih, persampahan, sanitasi, dan program lainnya. Para investor yang mempunyai pertimbangan cermat akan mempertimbangkan dana hasil obligasi digunakan untuk program apa oleh obligor. Apabila obligor atau pemerintah menggunakan dana obligasi untuk membiayai program yang bersifat cost recovery tersebut niscaya akan memberikan keyakinan dan kedamaian pada para investor, yakni dana yang diinvestasikan akan dapat kembali dan mampu memberikan keuntungan yang cukup di atas keuntungan bunga deposito. Keuntungan sedikit tak mengapa tetapi ada kepuasan tersendiri dalam berinvestasi. Para investor dapat mengembangkan portofolio atau kombinasi investasinya sebagian pada saham dan sebagian pada obligasi. (Dr Sugeng Wahyudi, dosen strategi dan keuangan pada Program MM Undip-53) |