| Senin, 29 Nopember 2004 | EKONOMI |
Industri Mebel Bantah Merusak HutanSEMARANG- Kalangan pelaku usaha permebelan di Jateng menolak anggapan bahwa industri tersebut menjadi penyebab utama kerusakan hutan. Pasalnya, penggunaan bahan baku berupa kayu pada usaha yang menyerap ribuan pekerja itu hanya sekitar 1,1 juta m3/tahun. ''Itu pun kayu jati maksimal sekitar 40%, sedangkan sisanya kayu alternatif,'' ujar Ir Anggoro Rahmadiputra, Ketua Asosiasi Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Koordinator Wilayah Jateng menanggapi tulisan Drs Riasto Widiatmono DEA di harian ini terbitan Sabtu 27 November. ''Tuduhan bahwa industri mebel merupakan penyebab kerusakan hutan sangat tidak signifikan, karena kebutuhan bahan bakunya paling kecil dibandingkan industri perkayuan lainnya atau sekitar 8% dari total kebutuhan kayu,'' ujar Anggoro yang juga Ketua Asmindo Komda Semarang, kemarin. Ia memaparkan peranan industri kehutanan dimulai tahun 1970-an yang diawali ekspor kayu bulat. Kemudian pada akhir tahun 1970-an mulai diolah menjadi panel kayu, gergajian, dan kayu olahan. Selanjutnya, pada awal 1980-an muncul industri pulp (bubur kertas) dan kertas. Menurut dia, mebel kayu mulai merebak pada pertengahan tahun 1980-an dan memberikan kontribusi sekitar 6% dari total ekspor industri kehutanan pada tahun 1994. Krisis moneter yang menghantam Indonesia mengantar industri mebel mencapai puncaknya. ''Hingga kini secara nasional rata-rata ekspor mebel menyumbang sekitar 16% dari total nilai ekspor kayu olahan. Jateng memiliki andil terbesar, yakni 31% dari total ekspor nasional atau senilai 450 juta dolar AS. Jadi, kami mendukung Pemerintah Provinsi Jateng memberi kesempatan industri ini menjadi andalan ekspor,'' tandasnya. Selain kebutuhan kayunya tidak terlalu besar dibanding industri kehutanan yang lain, investasi yang dibutuhkan juga relatif kecil, maka wajar jika di Jateng saja 70% pelaku permebelan adalah UKM. ''Dari angka-angka di atas paling tidak bisa disimpulkan bahwa industri mebel tidak rakus terhadap kayu.'' Pemilik Renny Gallery Ibrahim Agus Supono menyatakan industri mebel ini memiliki nilai tambah yang lebih besar dibanding industri perkayuan lain. ''Contohnya saja dengan bahan baku minimal, bisa dihasilkan produk yang nilainya tinggi, khususnya untuk pasar ekspor,'' kata pria yang juga ketua Asosiasi Produsen dan Eksportir Kerajinan (Asephi) Jateng ini. Menariknya, kecenderungan pada akhir-akhir ini para pengusaha mebel menggunakan bahan baku alternatif kayu-kayu keras, seperti kayu mangga, durian, munggur mindi dan kayu-kayu yang mudah didapat. (G2-82) |