logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 29 Nopember 2004 EKONOMI
Line

Obat Nyamuk Bakar Masih Dominasi Pasar

YOGYAKARTA -Asosiasi Perusahaan Obat Nyamuk Bakar Internasional atau International Mosquito Spiral Manufactures Association (IMSA) kembali mempercayai kepada Harsono Kusnandar sebagai presiden organisasi itu periode 2005-2006.

Keputusan tersebut diambil dalam konvensi IMSA di Yogyakarta, kemarin. Menurut Ketua Panitia Konvensi Tata Kusnandar, kegiatan itu diikuti 120 delegasi dari Indonesia, China, India, Thailand, Srilanka, Singapura, Nigeria, Taiwan, Brasil, Jepang, Malaysia, dan Kenya tersebut, sepakat memilih Harsono Kusnandar sebagai Presiden IMSA Periode 2005-2006.

''Pada periode sebelumnya, yakni 2003-2004, Harsono Kusnandar juga telah memimpin asosiasi ini,'' tutur Tata Kusnandar.

Asosiasi yang didirikan pada awal 1970-an itu, lanjut dia, semula hanya beranggota produsen obat nyamuk bakar. Namun dalam perkembangan selanjutnya juga menerima anggota dari kalangan pemasok bahan baku dan produsen obat nyamuk bentuk lainnya.

Ia menambahkan pasar obat nyamuk di Indonesia hingga sekarang masih didominasi oleh obat nyamuk bakar. Jumlah penggunaan obat nyamuk jenis lainnya oleh konsumen masih jauh di bawah obat nyamuk bakar.

IMSA, kata dia, tidak memiliki data mengenai jumlah produksi dan pemasaran obat nyamuk. Tetapi yang, jelas obat nyamuk bakar produksi Indonesia sudah memasuki pasar ekspor. Tujuan ekspornya antara lain Filipina, Myanmar, Vietnam, Korea Selatan, Jepang, bahkan AS.

''Di negara-negara maju obat nyamuk bakar banyak dimanfaatkan untuk acara-acara luar ruang, misalnya berkemah, barbeque, dan sebagainya,'' jelasnya.

Konvensi kemarin dimanfaatkan pula untuk menjelaskan peluang investasi di Indonesia secara umum, upaya pengendalian nyamuk di Indonesia, prosedur pendaftaran pestisida rumah tangga, dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia.

Selain itu, dimanfaatkan untuk meningkatkan kemampuan bisnis perusahaan obat nyamuk bakar. Kebanyakan perusahaan obat nyamuk adalah bisnis keluarga yang sudah bertahan selama beberapa generasi.

''Mereka kita beri pemahaman agar bisa meningkat menjadi perusahaan berkelas internasional,'' ujar Tata. (sgt-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA